KAIRANA PART 4

TITTLE: KAIRANA PART 4 (Gitar ajaib Yejin)

Main Cast: Kirana (OC) and Kai

Author: AAL (@deerjongin / @adlnayu)

Genre: Romance, friendship, comedy

Length: Chapter

Kirana’s POV

 

“Kalian…..KEMBAR?!!!”

Aku mengerjapkan kedua mataku. Kepalaku menoleh bergantian antara sang putri dan si mantan napi. Gila. Wajah yang sama rupanya, rambut yang sama panjangnya, struktur tubuh yang sama langsingnya, bahkan warna kulit yang sama putihnya! Daripada kembar, mereka berdua lebih mirip dengan sepasang bayangan. Tidak ada bedanya!

“Loh kamu tidak tahu?” Sang putri memandangku bingung, “Karena kami kembar, kami kan jadi lebih mencolok daripada trainee lain.”

“Dia anak baru Minri-ah.” Choi Hyera. Gadis jutek itu tiba-tiba menghentikan aktifitas menghafal liriknya dan angkat bicara. Sepertinya ia kesal karena aku si anak baru ini lagi-lagi membuat keributan, “Ia baru masuk kemarin. Wajar saja kalau tidak tahu jika kalian kembar.”

“Heee, anak baru ya?” Si mantan napi berdiri lalu berjalan mendekat padaku. Ia pandangi aku lekat-lekat seperti baru saja melihat spesies langka yang hampir punah, “Siapa namamu?”

“Kirana.”

“Hmmmmm…. Cute.” Si mantan napi mengangguk-angguk, “haven’t heard that name before. Kamu dari Thailand ya?”

“Bukan Indonesia.”

“Ohhh dari Bali toh.”

Hah?

“Bukan, aku dari Indonesia.” Sepertinya ada yang salah disini, “Tepatnya Jakarta, Indonesia.”

“Loh iya berarti dari Bali kan?” Si mantan napi terlihat nggak terima aku membantah perkiraannya, “Indonesia kan ada di Bali.”

Kepalamu Bali!

“Bukan. Bali yang ada di Indonesia. Bali itu salah satu pulau yang ada disana. Tepatnya di Indonesia bagian tengah.” Loh ko aku jadi ngajarin dia gini sih? ,”Yah intinya aku dari Indonesia.”

Si Mantan napi terlihat (masih) nggak terima aku mengkuliahinya seperti ini. Namun pada akhirnya ia mengangguk juga, “Namaku Hwang Minra. Dan itu adikku, Hwang Minri. Kalau sampai tertukar, kamu aku kenakan denda.”

Buset, ini mah namanya malak secara nggak langsung!

Namun aku lagi capek berdebat jadi aku iyain saja, “Yah…. Selama kalian memakai pakaian yang berbeda seperti ini, aku nggak akan tertukar ko.”

“Tapi buktinya tadi kamu tertukar.”

“Namanya juga baru pertama kali.”

Minra, atau si mantan napi, menggunakan kaus berwarna hitam dengan corak army di bagian lengan, sementara Minri sang putri cantik, mengenakan kaus lengan panjang berwarna pink susu dengan bando cantik tersemat di kepalanya. Duh, jelas-jelas mereka memakai pakaian yang berbeda, kenapa aku masih tertukar juga ya?

“Sekarang, kamu sudah bisa membedakan mereka kan?” Hyera kembali angkat bicara, “Tolong biasakan untuk bicara dengan tenang tanpa berteriak. Ini bukan hutan jadi kami pasti bisa mendengar suaramu.”

“Ya, Hyera sunbae. Maafkan aku.” Lagi-lagi aku terintimidasi oleh auranya.

“Darimana kamu tahu namaku?” Tanya gadis itu lagi.

Ini pertama kalinya aku bicara dengannya lebih dari dua kalimat. Entah kenapa, aku jadi grogi, “D-dari Jombang, eh maksudnya dari Jongin sunbae dan Yejin eonnie.”

“Sejak kapan kamu dekat dengan Yejin sampai BERANI memanggilnya ‘Eonnie’?” Kedua bola mata Gadis ini membulat. Ia terlihat seperti ingin menelanku bulat-bulat.

Aku jadi tambah takut, “Y-Yejin eonnie bilang, pa-panggilan sunbae terlalu formal. Jadi ia memintaku untuk memanggilnya dengan ‘eonnie‘ saja.”

Hyera menatapku dengan kedua matanya yang lebih tajam dari elang. Caranya menatap seseorang mengingatkanku pada Bu Woro. Guru sosiologiku yang sangat teramat galak dalam mengajar. Bedanya, Hyera jauh lebih muda dan cantik, “Yasudah. Sekarang kita akan mulai latihan, tolong perhatikan sikapmu.”

“Jangan terlalu kaku padanya Hyera-ya.” Minra melingkarkan lengannya pada leher gadis itu, “Kamu harus sedikit lunak dengan anak baru.”

“Iya. Anak ini bisa ketakutan kalau kamu memandangnya dengan tatapan seperti itu.” Minri menimpali sambil tersenyum menenangkan. Dibela oleh kedua orang ini, entah kenapa aku jadi nggak enak.

“Terserah.” Hyera melepaskan rangkulan Minra dan kembali ke tempatnya untuk menghafal lirik.

“Jangan dipikirkan ya.” Minri menepuk pundakku, “Ia memang dingin, tapi percayalah, dia bukan orang jahat ko.”

Dengan kedua mata setajam itu masih dibilang bukan orang jahat? Tapi yah, benar juga sih. Aku kan tidak mengenalnya. Nggak pantas rasanya aku berasumsi yang aneh tentang gadis itu padahal sama sekali tidak mengetahui apapun tentangnya.

“Ya. Terimakasih Minri sunbae.”

“Hei anak baru!” Seorang pria yang berdiri dibelakang keyboard tiba-tiba berteriak. Saat kutolehkan wajah, dapat kuprediksi bahwa ia pasti Mon Yonho saem. Guru vokal yang akan mengajar pada hari ini, “Kenapa kau terlambat?!”

“Aku tidak tahu kalau kelas sudah dimulai sejak tiga puluh menit yang lalu. Di jadwal hanya tertulis kalau kelas akan dimulai satu jam lagi.”

“Memang tidak ada yang memberitahumu kalau ada perubahan jadwal?”

Hmmmm, Jombang aka  Jongin sih memberitahuku, tapi ngasih tahunya telat. Jadi, kuputuskan untuk menggeleng pelan.

Yonho saem sepertinya jadi kasihan padaku. Raut wajahnya langsung melunak dan akhirnya ia mengangguk. Pria setengah baya itu lalu kembali melanjutkan aktivitas mengajarnya, “Baik, untuk hari ini kita akan belajar bagaimana bernyanyi ‘trio’. Dan aku ingin kalian menunjukan yang lebih dari sekedar menyanyi dan menari.”

Trio? Maksudnya nyanyi bertiga macam tiga diva gitu?

“Kalian boleh memilih kelompoknya sendiri. Tidak lebih dari tiga orang ya.” Yaiyalah! ,”Aku beri kalian waktu tiga puluh menit dimulai dari sekarang.”

Apaan nih? Ko berasa ikut master chef gini?

Setelah Yonho saem mengatakan itu, seisi ruangan langsung kasak-kusuk untuk mencari kelompok. Pasangan kembar dan Hyera ternyata satu kelompok. Aku menyapu pandanganku. Sebagai anak baru, ini lah hal yang paling menyebalkan. Aku kan nggak kenal mereka semua, gimana mau bikin kelompok?

“Hei anak baru, ah maksudku, Kirana…..ssi?” Yonho saem memanggilku, “Kau tidak dapat kelompok?”

Aku menggeleng sedih.

“Kalau begitu, kau sekelompok dengan mereka berdua saja. Mereka juga nggak punya kelompok ko.” Yonho saem tiba-tiba menunjuk dua orang cowok yang sedang menatap kearahku. Ditatap seperti itu aku jadi merasa risih, “kalian berdua, kemarilah sebentar.”

Dua orang cowok itu bertatapapan, lalu berjalan kearahku dengan langkah ragu.

Aku pun menatap kedua orang itu dengan mata mengerjap. Mereka bedua terlihat bertolak belakang. Yang satu bertubuh pendek dengan kedua mata sipit dan senyum jenaka, sementara yang satu lagi bertubuh tinggi dan berwajah suram. Aku seperti dapat melihat aura hitam dibalik punggungnya.

“Kirana-ssi, mereka berdua akan menjadi kelompokmu.” Yonho saem menepuk bahu mereka, “Bekerja samalah dengan baik ya.”

“Pasti dong!” Si pendek sipit tersenyum lebar, “Kita pasti akan bekerja sama dengannya sebaikkkkk mungkin. Yakan Tao?”

Cowok bertubuh tinggi dengan aura hitam dibelakang punggungnya menatapku dengan kedua matanya yang mengingatkanku pada panda. Lalu mengangguk pelan, “Ya……semoga saja.”

Aigoooo, tersenyum dong! Jangan buat gadis ini takut!” Si sipit lalu menjabat tanganku, “Hai, perkenalkan, namaku Byun Baekhyun. Siapa namamu?”

“Namaku Kirana.” Aku ikut tersenyum melihatnya, “Salam kenal Baekhyun sunbae.”

“Dan yang satu ini.” Baekhyun memukul punggung Tao, “Namanya Huang Zitao. Dia Trainee asal china dan bahasa koreanya lemah. Jadi maaf-maaf saja kalau ia jauh lebih pendiam daripada trainee lain.”

“Tak apa. Bahasa korea ku juga nggak bagus-bagus amat ko.”

“Loh memang kamu berasal darimana?”

“Indonesia.”

“OHHHH, negara yang mempunyai salad dengan saus berwarna cokelat itu?”

Hah? Apaan lagi nih? Tadi indonesia di Bali sekarang salad dengan saus cokelat? Jangan bilang nanti aku akan bertemu dengan orang yang mengatakan kalau empek-empek itu sejenis dimsum.

“Saus berwarna cokelat?”

“Iya. Sayuran gitu. Terus diatasnya dilumuri dengan saus berwarna cokelat. Penyajiannya mirip salad.”

Hah? Aku memutar otak. Memang di Indonesia ada makanan seperti itu?

“Baekhyun Hyung, daripada itu, lebih baik kita memikirkan lagu apa yang akan kita tampilkan nanti.” Tao tiba-tiba mengingatkan, “Kita hanya diberi waktu tiga puluh menit. Ingat?”

“Oh iya.” Keasikan mikirin salad berbumbu warna cokelat aku jadi melupakan hal yang jauh lebih penting, “Kita disuruh menampilkan yang lebih dari sekedar menyanyi dan menarikan? Bagaimana kalau kita sambil Stand up Comedy?”

Stand up Comedy? Apa itu?” Baekhyun mengerutkan kedua alis.

“Iya. Kaya ngelucu diatas panggung gitu. Jadi kita ngelucu sambil menari dan menyanyi.”

“Hahahaha ngelucu?” Baekhyun tiba-tiba terbahak. Ia lalu menepuk punggung Tao keras, “Tampang kaya dia mau kamu suruh ngelucu?! Nanti nggak akan ada yang mau nonton!”

Yaampun. Cowok ini kalau ngomong ko nggak diayak sih?

“Terus apa dong?” Tanyaku lagi.

Tao dengan aura hitam yang masih mengelilinginya, tiba-tiba angkat bicara, “Bagaimana kalau kita….beraegyo?”

Aegyo?”

“Iya.” Baekhyun mengangguk semangat. Ia lalu menoleh pada Tao, “Hei, coba kau tunjukan bbuing-bbuing mu pada Kirana. Agar ia mengerti apa itu Aegyo.”

“Oke, Hyung.” Cowok berambut hitam dan beraura kelam itu lalu menatapku. Mengepalkan kedua tangannya lalu menaruhnya diantara pipi. Ia menggerakan kepalan tangan tersebut sambil membuat ekspresi imut lalu… “Bbuing~ Bbuing~”

Aku yang melihatnya langsung bergidik.

Idih. Lucu kagak, sok imut iya.

“Gimana?” Baekhyun menoleh padaku, “Apa kau ingin mencobanya juga?”

Aku menggeleng cepat, “E-Enggak. Makasih.”

“Yah jangan gitu dong! Kalau menunjukan aegyo di depan kita aja nggak mau, gimana di depan orang-orang nanti?” Baekhyun mengerucutkan bibirnya, “Kamu tahu kan kalau disini ada sistem dimana tiap minggu, kita disuruh menunjukan bakat masing-masing. Nah, kalau aegyo aja kamu nggak mau, gimana kalau kamu disuruh melakukan hal yang jauh lebih aneh?”

Iya sih, kalau itu juga aku tahu. Tapi kita kan bisa berakting, atau ngapainlah selain aegyo. Bukannya aku nggak suka aegyo sih. Menurutku aegyo itu lucu, KALAU yang melakukannya juga lucu. Nah kalau mukanya sangar atau bertampang datar disuruh aegyo sih, yang ada akan….. Emm sorry to say, maksa.

“Emm… Bentar deh bentar. Tadi kamu bilang menunjukan di depan orang-orang?” Aku lalu menatap Baekhyun dan Tao bergantian, “Jadi kita beneran akan ber-aegyo????”

~KAIRANA~

Baekhyun sialan. Ia tetap memaksakan kehendak untuk ber-aegyo. Jadilah kami menyanyikan lagu Gee milik SNSD ditambah dengan sentuhan aegyo. Coba bayangin, lagu itu bahkan sudah dipenuhi dengan aegyo. Masih mau ditambah lagi???

“Pokonya aku ingin lagu SNSD!” Itulah perkataan Baekhyun saat aku menyarankan menggunakan lagu lain. Iya, aku tahu dia sone. Aku juga sone ko. Tapi ya nggak usah gini-gini juga kan.

Kalau Tao sih pasrah. Dia lebih memilih untuk mengikuti semua kehendak Baekhyun daripada menentangnya.

Speaking about Hyera and twins, mereka bertiga menampilkan sesuatu yang sangat luar biasa. Ketiga orang itu menyanyikan lagu Stand up for love milik destiny’s child. Tapi ditambah dengan alunan rapp dari Hwang Minra. (Kayanya bagian rapp ini mereka buat sendiri deh soalnya lagu originalnya kan nggak ada rapp nya). Membuat penampilan mereka menjadi yang paling bagus diantara semuanya.

Tapi, ada satu penampilan milik trainee lain yang membuatku terpukau. Trainee itu cowok. Tapi suaranya tinggi bangeeetttttt. Aku sampai menganga mendengarnya. Bodohnya, aku malah melupakan namanya. Kalau tidak salah sih, Kim Jon….ah siapa gitu. Yang jelas sih bukan Kim Jongin ya mukanya beda jauh.

Eh loh ko jadi keinget dia sih?

Aku mendengus sebal lalu melanjutkan langkah sambil menjinjing sebuah kotak makan berisi ttokboki yang masih hangat. Karena melewatkan jam makan siang, perutku sekarang lapar banget. Dan tidak ada yang bisa diajak untuk makan bersama. Si kembar sudah menghilang semenjak kelas vocal usai, dan aku terlalu takut untuk mengajak Hyera jadi diriku lebih memilih untuk makan siang di atap gedung saja. Semoga tidak ada orang.

Kedua kakiku yang sedang meniti tangga tiba-tiba terhenti, saat mendengar sebuah suara merdu yang diiringi oleh alunan gitar. Aku menajamkan telingaku untuk mengetahui lagu apa yang sedang dinyanyikan.

I’ve been sitting, watching life pass from the sidelines
Been waiting for a dream to seep in through my blinds
I wondered what might happen if I left this all behind
Would the wind be at my back
Could I get you off my mind
This time

Waktu aku mengintip dari celah pintu, kedua mataku membulat saat mengenali sosok yang sedang bernyanyi menggunakan gitar itu, “Yejin Eonnie?”

“Ah, Kirana-ah? Sedang apa disini?” Gadis itu menoleh sambil menurunkan gitarnya.

Eonnie sendiri…… Sedang apa  disini? Kenapa tidak ikut kelas vocalnya Yonho saem?”

“Ah, aku mengambil kelas jam lima sore. Jadi sekarang ingin refreashing dulu.”

“Dengan bermain gitar?” Aku menempatkan diriku duduk di sebelahnya, “Aku tidak tahu Eonnie mahir dalam bermain gitar.”

Gadis itu cepat-cepat menggeleng,”Tidak bisa dibilang mahir  juga ko.”

“Itu bohong.”

Kami berdua langsung menoleh ke sumber suara. Dan munculan sesosok cowok berbadan jangkung sedang berjalan kearah kami.

“Dia, sangat mahir dalam bermain gitar.” Cowok itu berambut agak gondrong yang dicat cokelat tua (atau itu memang warna aslinya aku nggak tahu). Wajahnya tampan dan dihiasi oleh sebuah senyum ramah. Kedua telinganya agak caplang dan ia berjalan kemari sambil menjinjing sebuah gitar.

Ko kayanya pernah liat ya……

“Chanyeol Oppa?” Yejin mengerjapkan kedua matanya saat melihat sosok itu, “Kenapa ada disini? Bukannya kamu masih latihan?”

Chanyeol……? Jangan-jangan…..

“Kamu Park Chanyeol yang jadi model di SNSD – Genie Japanese Version?!!!!” Kataku sambil menatapnya melolotot. Astaga, ini seperti dejavu. Saat pertama kali bertemu Yejin, aku juga merasa pernah melihat dirinya. Dan saat bertemu langsung dengan cowok bernama Park Chanyeol ini, aku juga merasa demikian.

“Kamu mengingatnya? Padahal itukan sudah lama sekali.” Ucap Chanyeol bingung. Bahkan tanggapannya sama persis dengan Yejin. Hebat!

“Tentu. Aku melihat MV itu setiap hari.” Jawabku polos. Chanyeol tertawa.

“Namaku Park Chanyeol.” Cowok itu menjulurkan tangannya yang besar. Aku menjabatnya , “Namaku Kirana. Trainee baru disini. Senang bertemu denganmu.”

Cowok itu mengangguk dan menempatkan dirinya duduk disampingku dan Yejin lalu mengeluarkan gitar dari tempatnya, “Yejin-ah, kamu sudah belajar lagu This Time yang aku rekomendasikan waktu itu?”

“Sudah. Kirana bahkan sudah mendengarnya.” Ia mengerling padaku. Aku membalas tatapannya bingung.

“Aku? Kapan?”

“Baru saja. Lagu yang kamu dengar saat menemukanku ada disini.”

Ahhh lagu itu toh. Aku menatap Chanyeol lalu mengangguk. Cowok itu tersenyum puas lalu men-setting gitarnya. Setelah selesai ia tepuk badan gitar itu sambil menatap Yejin, “Mau menyanyikannya bersama?”

Gadis itu tersenyum. Rona merah tiba-tiba menghiasi kedua pipinya, “Boleh.”

Setelah menarik nafas, keduanya lalu mulai menyanyikan sebuah lagu. Berdua. Dengan iringan gitar yang dipetik bersama.

Tonight the sky above
Reminds me how to love
Walking through wintertime, the stars all shine
The angel on the stairs
Will tell you I was there
Under the front porch light
On the mistery night

I’ve been sitting, watching life pass from the sidelines
Been waiting for a dream to seep in through my blinds
I wondered what might happen if I left this all behind
Would the wind be at my back
Could I get you off my mind
This time

“Hebat sekali Yejin-ah.” Chanyeol mengacak-acak rambut Yejin lembut, “Padahal aku baru memberitahu lagu ini kemarin lusa dan kamu sudah bisa menguasainya.”

“Tidak juga.” Gadis itu merendah, “Dibandingkan aku, Oppa jauh lebih hebat. Ditambah lagi, kamu juga bisa bermain drum. Berbakat ngerapp pula. Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan kamu.”

“Tidak. Menurutku kamu yang lebih hebat.”

“Salah. Oppa yang lebih hebat.”

“Kamu.”

Oppa.”

“Kamu.”

Oppa.”

Aku memandang kedua sejoli ini sambil mengerjapkan kedua mata. Loh ko jadi banyak aura love-love bertebaran di sekitar sini sih? Ah tidak. Tepatnya di sekitar mereka. Chanyeol dan Yejin seperti dikelilingi aura dua orang yang sedang kasmaran. Daripada mengganggu dua orang yang sedang pacaran. Lebih baik aku pamit undur diri saja.

Setelah mengucapkan salam kepada mereka berdua, aku pun kembali mengambil kotak makan siangku lalu berjalan turun dari atap gedung itu.

Enakan makan dimana ya? Kalau di Kafetaria, tempat itu pasti ramai sekali. Dan aku akan semakin terlihat seperti forever alone. aku tahu seharusnya tak boleh begini. Sebagai anak baru, akan lebih baik kalau aku ikut berkumpul dengan para trainee dan berkenalan dengan mereka semua. But, i admit it, i’m not good at words. Kalau aku memaksa berkenalan, mereka semua pasti akan menganggapku sok kenal sok de…..

Uuuuuuuuups.

Aku menabrak seseorang.

“Astaga, kamu lagi, kamu lagi!”

That voice. Ugh.

“Kenapa? Nggak suka?” Aku langsung mengangkat daguku tinggi-tinggi saat bertemu denganya. Reaksi yang biasa aku tunjukan saat bertemu dengan orang-orang nyebelin seperti dia, “Kaya aku mau ketemu sama kamu aja.”

Jongin mendengus mendengarnya, “Lah, siapa juga yang bilang ingin bertemu denganmu?”

Cowok itu masih memakai pakaian yang sama seperti yang dipakainya saat di Cafe bubble tea tadi. Apakah itu berarti ia baru kembali dari sana? Kalau begitu, apa kabar si cowok manga? Dia masih ada disana tidak ya?

“Eh, iya kamu dari mana saja? Ko nggak ikut kelas vocalnya Yonho saem?” Tanyaku sambil menyelipkan sejumput rambut ke belakang telinga.

“Bilangnya tidak mau bertemu denganku tapi malah nanya-nanya aku ada dimana.”

“Itu namanya attitude tahu! Bagaimanapun kamu ini seniorku, wajar dong kalau aku melakukannya untuk basa-basi?” Ah tahu gini, lebih baik aku langsung berjalan meninggalkannya saja. Sia-sia menghabiskan energi untuk bersikap sopan pada mahluk yang satu ini.

Jongin mengangkat kedua bahu santai, “Aku mengambil kelas jam lima sore. Makanya tadi tidak masuk.”

“Oh, berarti barengan sama Yejin eonnie ya?”

“Yejin? Oh iya. Darimana kamu tahu?”

“Tadi aku sempat bertemu dengannya. Mau mengajaknya makan siang bersama tapi tiba-tiba pacarnya datang. Karena tidak ingin mengganggu makanya aku pergi.”

“Pacar? Chanyeol Hyung?”

“Iya. Kamu kenal?” Tanyaku penasaran.

“Siapa juga yang tidak kenal dengan cover boy seperti dia?” Jongin memutar kedua bola matanya malas, “Dia adalah salah satu trainee populer disini. Yejin juga. Mereka itu pasangan yang sangat-“

Kryukkk~ kryukk~

Belum sempat Jongin menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba terdengar suara aneh. Aku memeriksa blackberry ku, tidak ada pesan. Lalu, suara itu berasal dariman ya?

Barulah, saat diriku melihat wajah Jongin yang merah karena malu, aku baru mengetahui darimana suara itu berasal. Perutnya.

“Hahahaha, sunbae, kamu lapar ya?” Aku terkikik melihat wajahnya yang merah padam.

Jongin gelagapan, “Diam kamu! Lapar atau tidak ini bukan urusanmu tahu!”

Aku malah tertawa makin keras. Bahkan sudut-sudut mataku sampai mengeluarkan air mata. Wajahnya yang malu tapi menahan gengsi itu benar-benar lucu. Ia terlihat seperti anak kecil angkuh yang tidak ingin mengakui kalau mainannya di rebut orang.

Setelah puas tertawa, akupun mengangkat kotak makanku tepat di depan wajahnya sambil tersenyum manis, “Mau makan bersama?”

~TBC~

I’m triple sorry for the lated update. : (.

Ah iya, bagi readers yang menunggu kelanjutan endless love part 6, please kindly to wait a little bit longer. Karena diantara semua fanfic exo ku, endless love adalah yang paling sulit. Susah rasanya membuat cerita dengan genre sad romance menjadi bacaan yang seru dan menarik. Salah-salah malah akan menjadi membosankan dan menye-menye hehe.

Ah iya, sama seperti silver knight, cast yang ada dalam fanfic Kairana saling berhubungan. Jadi mohon diafal dan jangan sampai lupa ya : ).

Kita ketemu lagi di chapter selanjutnya, ciao~

Advertisements