Packet? Part 3

TITTLE: PACKET? PART 3 (END)

CAST: SEO JOO HYUN

OH SEHUN

JUNG SOO JUNG

AUTHOR: AAL (@pokaihontas)

GENRE: ROMANCE

LENGTH: CHAPTER

NOTES: Part ini terinspirasi dari cerpen karya Dee yang berjudul Hanya Isyarat. Dan lebih bagus lagi kalau kalian membaca part ini sambil mendengarkan lagi Hanya Isyarat –  Dewi lestari ^^.

 

~PACKET~

 

Seohyun merebahkan tubuhnya pada kasur ukuran queen size yang ada di kamarnya. Kedua matanya menghadap langit-langit kamar yang putih bersih tertutup rapat. Keningnya berkerat-kerut seakan menunjukan bahwa pemiliknya sedang berfikir keras. Satu tangan milik wanita itu terangkat lalu memijit pelipisnya.

Sudah dua minggu berlalu semenjak kejadian sang postman yang mendatangi rumahnya, dan sudah dua minggu pula sang postman tak henti-hentinya berdiri di depan pintu rumahnya.

Seohyun tidak tahu apa sebenarnya yang diinginkan oleh postman itu. Sepertinya ia penasaran. Atau mungkin tertarik padanya. Tapi, persetan dengan itu semua karena Seohyun tidak peduli.

Sebenarnya, jika boleh jujur, Seohyun juga merasa tertarik dengan postman itu. Kedua matanya yang cokelat dan kulit putihnya mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang hidup dalam masa lalunya dan tidak akan pernah menjadi masa depannya. Sekeras apapun wanita itu mencoba.

Seohyun tidak mungkin melupakan orang itu. Bila orang itu sudah melupakannya pun, itu tidak masalah baginya. Malah ia senang. Tidak perlu ada hubungan dalam antara Seohyun dan orang itu, karena wanita itu sedari awal memang memutuskan melepaskan segalanya dan tidak akan bergerak maju untuk mengejarnya. Mengejar orang itu.

Ia akui, sang postman memang membuatnya terpesona. Wajahnya bagaikan jelmaan malaikat di tengah hidupnya yang kelewat monoton. Tapi, memangnya wanita itu bisa apa? Sang postmanbukan siapa-siapanya dan tidak akan pernah menjadi siapa-siapanya. Ditambah lagi umur sangpostman yang berbeda jauh darinya. Mana mungkin ia menjalin hubungan dengan anak kecil seperti itu.

Seohyun menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Ia harus segera menyelesaikan urusannya dengan sang postman. Sebelum mereka berdua terseret dalam permainan hati yang hanya akan mengakibatkan luka bagi keduanya.

~PACKET~

Sehun menatap meja kerjanya yang berantakan dengan tatapan kosong. Ia tidak menggubris omelan atasannya yang mengatakan bahwa sedari tadi ia tidak serius bekerja. Persetan dengan pekerjaan. Sekarang Sehun sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih penting dari pada itu.

Jika dihitung-hitung, sudah dua minggu ia selalu pergi ke rumah putih itu. Berharap wanita cantik yang tinggal di dalamnya membukakan pintu untuknya dan menjelaskan mengapa saat pemuda itu pertama kali bertatap muka dengannya, wanita itu malah menangis.

Sebenarnya itu sendiri bukan urusan Sehun. Ia bisa saja berpura-pura kejadian itu tidak pernah terjadi dan pemuda itu bisa dengan bebas melanjutkan kehidupannya.

Tapi….ia tidak bisa. Ada sesuatu yang menarik hatinya. Mengatakan bahwa ia harus mencari tahu mengapa. Mengapa wanita itu menangis. Mengapa wanita itu selalu mengirimkan paket-paket aneh. Mengapa…. Wanita itu terlihat sangat kesepian.

“DOR!” Seseorang mengagerkannya dari belakang. Tapi tanpa menolehpun, Sehun sudah tahu siapa, “Kenapa sedari tadi kau melamun seperti itu Sehun-ah? Nanti kesambet Setan loh.”

Sehun memutar kedua bola matanya, “Iya, dan setannya adalah kau.”

Soo Jung mengerucutkan bibirnya. “Aku kan nanya nya baik-baik kenapa kau menjawabnya seperti itu?”

“Aku sedang tidak mood tahu.”

“Memangnya aku peduli?” Sekarang giliran Soo Jung yang memutar kedua bola matanya. Ia dudukan tubuhnya pada kursi di belakang meja kerjanya lalu mengeluarkan sebuah buku, “Daripada aku bicara denganmu lebih baik aku membaca saja.”

“Siapa juga yang ingin bicara denganmu?” Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir. Terkadang mental rekan kerjanya ini bisa menjadi terlalu percaya diri.

Pemuda itu menoleh ke meja kerja Soo Jung yang rapih lalu kedua matanya membelalak. Bukan. Bukan karena meja kerja itu kelewat rapih, melainkan karena sebuah buku yang sedang tergeletak disana mencuri perhatiannya sepenuhnya.

“He-Hei apa yang ingin kau lakukan dengan buku ku, Sehun-ah?” Soo Jung berusaha merebut kembali bukunya namun pemuda itu malah menghindar.

“Sebentar saja. Aku hanya ingin lihat.” Sehun duduk diatas kursinya lalu menatap buku yang ada ditangannya lekat-lekat. Buku dengan sampul berwarna gelap dan….taburan bintang-bintang sebagai hiasannya.

Tak salah lagi. Motif bintang ini persis dengan paket yang selalu dikirimkan oleh wanita itu. Tentu saja ia tahu, karena selalu dirinya yang mengantarkan paket sialan itu.

Ia membuka halaman pertamanya, dan disitulah terpampang sebuah nama yang terukir disana.

“Starla?” Sehun memiringkan kepalanya, “Siapa itu, Starla?”

“Nama penulisnya bodoh.” Soo Jung merebut kembali bukunya, “Starla itu nama penulisnya.Star, diambil dari kata bintang. Karena itulah semua sampul bukunya bermotif bintang, agar sesuai dengan namanya.”

“Berarti Starla itu….nama pena?”

“Yah….mungkin.” Soo Jung menatap bukunya, “Tidak ada yang tahu tentang si Starla ini. Ia tidak pernah menggelar acara tanda tangan buku ataupun jumpa penulis. Jadi tidak ada yang pernah melihat wajahnya.”

Aku pernah. Dan ia sangat cantik. Secantik nama penanya.

“Hei Soo Jung-ah.” Sehun melemparkan senyum manisnya, “Aku…..pinjam buku itu sebentar ya?”

“Hah? Buat apa?”

“Ayolah… sehari saja. Besok aku kembalikan. Janji.”

“Kalau aku tidak mau, bagaimana?”

“Maka aku akan menciummu.”

Soo Jung merasakan bahwa kedua pipinya menghangat dan jantungnya tertinggal satu detakkan, “H-Hah… Apa-Apaan……”

Melihat kondisi Soo Jung yang sedang shock, Sehun menggunakan kesempatan itu untuk merebut bukunya lalu berlari cepat, “Aku pinjam sebentar ya rekan kerjaku yang manis.”

“L-l-lohh jangan seenaknya begitu dong Oh Sehun!!!!”

~PACKET~

Sehun menutup buku bersampul bintang itu. Pandangannya menerawang. Jiwanya seakan kosong dan nafasnya seperti tercekat.

Ia tidak sedang membaca karya shakespeer kan? Ataukah, Starla adalah jelmaan shakespeer di abad 21?

Sehun mengamati judul buku ini. Bintang jatuh. Dan seperti itulah perasaan wanita yang menjadi tokoh utama dalam buku ini.

Ia tidak tahu apakah buku ini non-fiksi atau pun fiksi. (Pemuda itu tidak tahu dimana letak perbedaannya) namun ia dapat merasakan bahwa karakter yang diciptakan seperti hidup. Jalan ceritanya yang sederhana terkesan realistis. Jadi, Sehun menyimpulkan bahwa….mungkin saja….. Kisah yang ada dalam buku ini merupakan kisah cinta Starla.

Buku ini bercerita tentang seorang wanita yang mencintai satu laki-laki. Wanita itu tidak pernah menatap wajah sang lelaki dengan jelas karena lelaki itu selalu memunggunginya. Jadilah, wanita itu hanya sanggup mengamati punggungnya. Mencintai punggungnya. Mengisyaratkan cinta kasihnya pada lelaki itu melalui punggung.

Pernah suatu kali, lelaki itu menolehkan wajahnya. Tapi wanita itu malah menangis. Ia tak sanggup menatap kedua bola mata milik lelaki itu. Karena wanita itu tahu, bahwa ia tidak akan pernah bisa memiliki lelaki itu. Ia tak ingin berharap. Ia tak ingin mencintai lelaki itu lebih dalam.

Starla menceritakan bahwa cinta wanita dalam karakternya  kepada sang lelaki seperti bintang jatuh. Lelaki itu bagaikan bintang yang lepas dari genggaman sang langit, dan jatuh meluruh sebelum kedua tangan wanita itu sanggup meraih. Wanita itu tidak mau mencintai bintang jatuh. Mencintai sesuatu yang tidak akan pernah menjadi miliknya. Karena itu, ia lebih memilih memandanginya hanya sebatas punggung. menurutnya, selama ia bisa memandangi punggung lelaki itu dan melihatnya bahagia meskipun bersama dengan wanita lain, itu sudah lebih dari cukup.

Starla, Sehun menggumamkan nama itu dalam hati, Apakah…..kau adalah bintang jatuh bagiku?

 

~PACKET~

 

Seohyun menuangkan susu pada semangkuk oatmeal yang telah ia taburi buah-buahan sebelumnya. Setelah dirasa pas ia membawa mangkuk itu ke depan laptop dan mulai melahapnya. Wanita itu harus makan dengan cepat sehingga ia bisa mulai bekerja dan merampungkan ceritanya.

Kunyahannya berhenti saat ia tiba-tiba teringat sesuatu. Sudah tiga hari sang postman tidak mengunjungi rumahnya. Ada apa ya?

Yah, tapi baguslah. Jadi Seohyun tidak usah repot-repot mengusirnya. Ia sudah bilangkan bahwa ia akan melakukan sesuatu untuk tidak membuat mereka berdua jatuh ke dalam jurang bernama cinta? Jika sang postman duluan yang mundur, maka itu menjadi sebuah keuntungan bagi wanita itu.

Bila sang postman bukanlah bintang jatuh, apa kau akan mengejarnya?

Suara hatinya lagi-lagi bicara. Seohyun normal biasanya akan langsung menggelengkan kepalanya keras-keras agar suara itu pergi namun, sekarang ia memutuskan untuk mendengarkan suara itu sampai selesai.

Sang postman bukan lelaki itu. ia bukan bintang jatuh. Kenapa kau tidak memperjuangkannya?

Seohyun mengerti arti kata itu. perjuangan. Ia bisa saja memperjuangkan lelaki muda nan tampan itu tapi….

Kau takut?

“Tidak.”

Lalu?

“Sang postman…..ia masih muda. Aku memang bisa saja memperjuangkannya. Mengejarnya. Memilikinya lebih dari sekedar memandangi punggungnya. Namun aku yakin, ia bisa mendapatkan yang lebih baik daripada aku. Lebih cantik. Lebih muda. Lebih mencintainya. Dan sang postman pasti bisa menemukannya.”

Tin tinnnn!!!~

Seohyun hampir tersedak oatmeal saat suara motor klakson tiba-tiba terdengar di depan rumahnya . Ia mengambil serbet lalu menghapus jejak-jejak susu yang tercecer di sekitar mulutnya. Wanita itu berdiri lalu berjalan kearah jendela untuk mengetahui siapa yang datang.

Postman?”

Sang postman tidak menggunakan helm seperti biasa. Jadi Seohyun bisa melihat wajah itu dengan jelas dan entah mengapa…wanita itu seperti ingin menangis. rasa sakit di masa lalu yang sudah ia pendam rapat-rapat perlahan terbuka. Menganga. Seperti siap untuk menjatuhkan tubuhnya ke jurang bernama……Seohyun tidak ingin menyebutkan kata itu.

Sang Postman turun dari motornya lalu mengeluarkan sebuah paket. Seohyun mengerutkan kedua alisnya. Seingatnya, bulan ini ia tidak mengirim paket apapun. Jadi, paket itu dari siapa?

Sang postman memasukan paket yang ada ditangannya ke dalam kotak pos. ia lalu mendongakan kepalanya kearah jendela. Menatap Seohyun dan tersenyum manis. Seohyun bersumpah itu adalah senyum termanis yang pernah ia lihat.

Sang postman mengangkat satu tangannya lalu melambaikan tangan. Seperti salam perpisahan. Seperti mengatakan bahwa ini adalah kali terakhir ia mengantarkan paket untuknya. Seperti memberitahu bahwa ini adalah terakhir kali mereka bertemu.

Kejar dia Seo Joo Hyun!

“tidak.”

Cepat atau kau akan menyesal seumur hidup!

“Kubilang Tidak!”

Starla.

Seohyun tersentak saat hatinya menyebut kata itu.

Kejar dia Starla. Kejar.

Seperti disambar petir Seohyun langsung melangkahkan kedua kakinya lalu berlari sekuat tenaga. Ia turuni tangga secepat kilat dan membuka pintu utama rumahnya yang digembok tiga. Ahh, kenapa disaat genting seperti ini ia jadi lupa pasangan kuncinya ya?

Setelah pintu terbuka Seohyun langsung berlari keluar. Ia bahkan tidak menggunakan alas kaki. Ada yang lebih penting dari sekedar sandal. Seohyun harus mengatakan sesuatu.

POSTMAN!”

Sang postman yang tadi ingin menaiki motornya kontan membeku. Kenapa wanita ini tiba-tiba keluar dari goa persembunyiannya?

Postman, aku…….” Seohyun menggigit bibir bawahnya, “Aku ingin bilang kalau aku……”

“Starla.”

Seohyun mengunci bibirnya, “Y-ya?”

“Starla, aku….” Sang postman mengelus tengkuknya, “Ada yang ingin kukatakan padamu.”

“A-Apa?”

Postman meneguk salivanya. Berhadapan langsung dengan wanita misterius ini membuat ketegangannya meningkat dua kali lipat, “Jangan takut jatuh cinta.”

“Heh?”

“Jangan takut jatuh cinta.” Postman menarik kedua ujung bibirnya, “Sesungguhnya…jatuh cinta itu bukan sesuatu yang buruk, kau tahu?”

“Kau…..”

“Aku tahu aku ini memang anak kecil.” Postman tertawa kecil. tawa yang lebih terdengar lirih daripada bahagia, “Tapi aku hanya ingin mengatakan, jangan mau menjadi bintang jatuh.”

“Darimana kau…..”

“Mencintai, ataupun menjadi bintang jatuh. Jangan mau menjadi keduanya.” Postmantersenyum lagi, “Kau lebih dari sekedar itu.”

Sang postman mengelus puncak kepalanya lalu berbalik untuk menaiki motor kesayangannya. Ia melempar pandangan pada Seohyun lalu mulai menyalakan mesin.

Postman.”

“Ya?”

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Semuanya.”

Postman mengerjapkan kedua matanya bingung, namun tak urung ia menarik kedua ujung bibirnya untuk kembali tersenyum, “Sama-sama, Starla.” Ia lalu menjalankan motornya. Meninggalkan Seohyun yang masih berdiri tanpa alas kaki.

Wanita itu diam-diam tersenyum. Namun air mata seketika membasahi kedua pipinya. Tak apa. Pemuda itu pasti akan menemukan cintanya. Walaupun itu bukan dirinya, ia tidak keberatan. Pemuda itu pantas mendapatkan sesuatu yang lebih dari sekedar bintang jatuh. Biarlah ia menjadi bintang jatuh bagi pemuda itu, karena sesungguhnya, Tuhan pasti sudah menyediakan yang lebih baginya.

Seohyun berjalan pelan memasuki rumahnya ketika ia teringat sesuatu.

Wanita itu langsung berjalan menuju kotak pos. tangannya terulur untuk mengambil paket yang terparkir disana. Paket pertama yang ia dapatkan dari orang lain. Bukat paket dari dirinya sendiri.

paket itu bersampul putih polos. Seohyun membuka sampul itu dengan hati-hati lalu menemukan sebuah buku diary yang berhias kerang, taburan pasir, dan segala macam-macam benda yang biasa kita lihat dipinggir pantai ataupun laut.

Seohyun membuka halaman pertama buku itu. lalu membaca tulisan yang tertera disana.

Suatu hari aku melihat sebuah bintang.

Diantara semua bintang yang berpendar diangkasa, ada satu bintang yang paling bersinar. Mungkin kesayangan angkasa.

Tiba-tiba bintang itu jatuh dari genggaman sang langit.

Aku tak sempat menangkapnya.

Bintang itu jatuh ke laut. Membelah selat, dan akhirnya memendam di dasar sana.

Aku tidak bisa membawakan bintang itu padamu.

Lagipula, menurutku kamu tidak membutuhkan bintang itu. karena itu bukan harapanmu.

Aku ingin kamu menulis semua harapanmu disini. Ditempat dimana serpihan bintang itu pernah jatuh.

Dan aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku mendoakan kebahagiaanmu lebih dari siapapun.

Dari aku, untuk kamu.

 

~EPILOG ~

 

Sudah selesai mengantar paketnya?” Soo Jung menyapa Sehun saat ia melihat pemuda itu kembali duduk di atas kursi kerjanya setelah pergi sebentar.

“Ya.”

“Kenapa kau terlihat lesu begitu? Apa terjadi sesuatu padamu, Sehun-ah?” Tanya Soo Jung khawatir. Gadis itu menaruh telapak tangannya pada kening Sehun. Tidak panas, “Sehun-ahapa telah terjadi sesuatu?”

Sehun tersenyum kecil, “Tidak.”

“Lalu, ada apa? Apa kau ingin menceritakannya padaku?”

“Kau tahu sesuatu, Soo Jung-ah?”

“Apa?”

“Kau itu cerewet sekali.”

“APA?!”

Sehun tergelak lepas. Menunjukan giginya yang tersusun rapih, “Tak apa aku suka kau yang seperti itu.”

“Hah? Maksudnya?”

“Aku bilang aku suka dengan kau yang seperti itu.” Sehun mengangkat tangannya lalu mengelus puncak kepala Soo Jung, “Jangan pernah berubah ya.”

“Kalau aku berubah, memangnya kau mau apa?” Soo Jung mengangkat sebelah alisnya.

Pemuda itu tertawa lagi. Ia menolehkan kepalanya. menatap Soo Jung sambil tersenyum manis, “Maka aku akan berhenti menyukaimu.”

Kedua bahu Soo Jung merosot. Mulutnya menganga membentuk huruf ‘O’ yang besar. “M-m-m-m-m-m-m-maksudnya?”

“Tebak saja sendiri.”

aku yakin, ia bisa mendapatkan yang lebih baik daripada aku. Lebih cantik. Lebih muda. Lebih mencintainya. Sang postman pasti bisa menemukannya

Dan sepertinya……..Sehun sudah menemukanya. Benar kan? : – )

 

-END-

 

Hallo, maaf sekali chapter terakhir ini sebenarnya sudah selesai lama dan sudah pernah di post di salah satu blog fanfiction khusus EXO, hanya saja lupa di update disini:)

Enjoy^^