SILVER KNIGHT PART 3

sk1

TITTLE: SILVER KNIGHT PART 3

MAIN CAST: Jung Sae Byuk (OC)

      Kim Jongin

    Oh Sehun

       Huang Zitao

MINOR CAST: Park Chanyeol / Lucas Javier

            Kim Jumyeon / SuHo

 Wu Yi Fan/ Kris

Yoo Ara / Henrietta Angela

AUTHOR: AAL (@deerjongin)

GENRE: Romance, Family, Friendship

Hai, maaf karena lama update ya ^^.

Aku Cuma mau kasih tau aja. Di part ini banyak sekali petunjuk-petunjuk yang berhubungan dengan silver knight company. Aku sengaja nggak memberitahunya secara langsung namun menggunakan petunjuk biar kalian bisa menebaknya sendiri : ).

Hehehe, selamat membaca dan jangan lupa RCL ya ! : )

Sae Byuk’s POV

“Ckckckckck. Tadi pagi terlambat setengah jam, sekarang empat puluh lima menit.” Jongin menggelengkan kepalanya. Takjub. “Kamu ini…. Bodoh atau berani sih?”

“Hehehehehehe.”

“Hah? Kau gila ya? Tiba-tiba ketawa sendiri begitu.”

“Hehehehe nggak apa-apa ko. Yasudah, itu bubble teanya di minum ya, aku pulang dulu.”

“Siapa yang suruh kau pulang?”

Aku yang tadi tinggal beberapa langkah lagi meraih gagang pintu kembali menoleh, “Memangnya kau ingin aku melakukan apa lagi?”

“Ikut aku ke tempat pemotretan.”

“Hah? Males ah! Pasti jauh kan?”

Jongin membulatkan kedua matanya. Alisnya berkerut kesal karena melihatku yang berani melawannya. Mungkin dalam hati, ia menahan keinginan untuk tidak menjahit mulutku. “Pemotretannya akan berlangsung di gedung ini. Di lantai tujuh .jadi tidak perlu berkendara jauh-jauh.”

“Oh, bagus dong. Kalau begitu ngapain minta ditemenin?”

“Ya suka-suka aku dong! Kau kan asistenku, kenapa selalu ngelawan sih?” katanya gemas.

Aku mengerucutkan bibirku sebal.  Hobi banget sih, bikin orang susah but, it’s okay. Mood ku masih bagus karena kejadian tadi pagi jadi aku mengatakan ” Yasudah, kau mau berangkat ke lantai tujuh kapan?”

“Sekarang.”

“Sekarang? Oke.”

“Hei.”

“Ya?”

“Kau… Nggak apa-apa?”

“Aku?” Aku memiringkan kepala, “Nggak apa-apa tuh. Memang kenapa?”

Jongin mengangkat sebelah alisnya penuh selidik, “Apa saat membeli bubble tea tadi kau melihat sesuatu yang aneh?”

“He? Ti-tidak tuh.”

“Bohong.”

“Apasih. Bohong ataupun tidak ini kan bukan urusanmu.”

“Aku kan majikanmu jadi aku berhak tahu semua hal tentangmu.”

“Kata siapa?” Kataku sembil mengangkat dagu tinggi-tinggi.

Jongin sepertinya sudah siap untuk membalas perkataanku dengan rentetan omelan lainnya, namun pemuda itu memutuskan untuk menarik nafas lalu menghembuskannya pelan-pelan, “Oke. daripada bertengkar seperti ini, lebih baik kau pergi ke ruangannya Thomas yang ada di lantai dasar, lalu mengambil barang-barang yang aku perlukan untuk pemotretan nanti. Gimana?”

“Ide yang bagus.” Aku mengangguk-angguk setuju, “Itu jauh lebih baik daripada diam disini dan bertengkar dengan pemuda yang galak, sombong, tapi hobinya minum bubble tea. Nggakmaching.”

“APA?!”

Aku langsung berlari keluar ruangan sebelum Jongin berhasil menyambitku dengan sepatunya. Hah. Memang Cuma dia yang bisa menghinaku?

~SILVER KNIGHT~

“Permisi~”

Aku mengetuk pintu berbahan mahoni yang ada dihadapanku. Tapi tidak ada yang menjawab. Setelah mengetuknya kembali sebanyak tiga kali dan tidak ada yang merespon, tanganku bergerak untuk menyentuh engsel pintu. Namun belum sempat aku menyentuhnya, tiba-tiba pintu itu sudah terbuka sendiri. Seakan mempersilahkan diriku untuk masuk,

Aku melongokan kepalaku. Tidak ada siapa-siapa. Kalau aku masuk, mengambil alat yang dibutuhkan, lalu langsung keluar lagi, tidak akan dikira pencuri kan?

Aku melangkahkan kakiku ragu. Lalu menyapu pandanganku pada ruangan kerja yang luas ini. memang tidak seluas ruangan milik Jongin, namun tetap saja ini terlalu besar untuk ukuran ruang kerja seorang manager.

“Oh, itu dia.” Mataku menangkap sebuah kotak yang bertuliskan nama Jongin. Saat aku membukanya, terdapat berbagai macamjam tangan, kamera SLR (dua buah), handuk kecil, majalah mobil, sepatu sneakers, , dan sebuah….foto.

Aku langsung mengambil foto yang terlihat ganjil diantara semua barang-barang tadi. Lalu membersihkan debu yang menempel dipermukaannya.

Di dalam foto itu terdapat tiga orang pemuda dan seorang gadis. Keempat orang itu sedang tersenyum sambil saling merangkul.

“Astaga.” Tanganku bergetar mengitari foto itu, “Ketiga pemuda ini….para Knight?!”

Benar. Sehun, Jongin, Tao. Ketiga Knight itu sedang berpose sambil saling merangkul. Senyum yang tertera di wajah mereka kelihatan begitu tulus dan hangat. jika dibandingkan dengan mereka yang sekarang, rasanya berbeda sekali.

Dan gadis yang sedang berdiri diantara Jongin dan Tao ini, aku kenal dia. Namanya Henrietta Angela aka Yoo Ara, ia adalah seorang model cantik yang selalu berpose bersama para Knight. Namun akhir-akhir ini aku tidak pernah melihatnya. Dan Tao. Ya, akhir-akhir ini knight yang satu itu juga tidak pernah muncul di pemotretan ataupun runway manapun.

Sepertinya foto ini diambil sudah sangat lama. Dilihat dari bahan foto ini yang sudah mulai lapuk dan…..

“Siapa itu?”

“Eh. Ah… Maaf.” aku langsung berbalik dan menundukan tubuh, “aku kesini untuk mengambil barang-barang milik Jongin. Maaf karena aku lancang memasuki ruanganmu tanpa izin.”

Thomas mengerjapkan kedua matanya, lalu mengangguk, “Oh, tidak apa-apa.” Ia melangkah maju lalu duduk diatas bangku kerjanya, “Apa kau sudah menemukan apa yang kau cari? Aku ingin bekerja.”

“Ah, sudah.” Aku langsung mengangkat kotak itu yang ternyata lumayan berat, “Kalau begitu, aku permisi dulu…”

“Sae Byuk-ssi.”

“Ya?”

“Apa itu ditanganmu?”

“He?” aku melirik tangan kananku yang masih menggengam foto tadi, “Ha-hanya sebuah foto yang kutemukan di dalam kotak ini. bukan sesuatu yang penting ko.”

“Boleh aku lihat?”

“Tentu saja.” Aku menyerahkan foto itu padanya.

Thomas mengamati foto itu lalu mengelus permukaannya, “Sudah lama sekali….”

“Apa kau tahu sesuatu tentang foto itu?” tanyaku penasaran.

“Tentu saja. Kan aku yang mengambil foto ini.”

“Benarkah?”

“Ya.” Thomas mengangguk, lalu menyerahkan kembali foto itu padaku “Foto ini diambil dua tahun lalu. Di Australia. Saat mereka berempat habis menyelesaikan pemotretan untuk koleksi musim gugur milik Dior.”

“Oh…..” aku manggut-manggut, “Sepertinya mereka senang sekali.”

Thomas tersenyum tipis, “Saat itu adalah ulang tahun Henrietta yang ke tujuh belas. Mereka bertiga sudah menyiapkan kejutan untuk gadis itu. sayangnya itu menjadi ulang tahun terakhir bagi….” Merasa sudah bicara terlalu banyak, pria ini berdehem, “Ah, kau bisa terlambat dan kena marah Jongin kalau terlalu lama berada disini.”

“Ah, iya kau benar.” aku menggaruk tengkuk, walau sebenarnya masih penasaran dengan kelanjutan kalimat tadi, “Kalau begitu aku permisi dulu.”

Aku tersenyum lalu berbalik keluar dari ruangan kerja itu dengan seribu tanda tanya yang menggantung di kepala.

Ulang tahun terakhir? Apa maksudnya? Dan ah, aku lupa menanyakan perihal tentang Tao.

Kotak ini terasa sangat berat. Dan aku mempertanyakan mengapa Jongin memerlukan barang tidak penting ini ke pemotretannya. Kamera SLR? Oke itu penting, namun majalah mobil? Jam tangan? Sepatu sneakers? Alat-alat ini kan bisa ia pakai ataupun dibawa sendiri, mengapa harus dimasukan ke dalam kotak yang penuh debu begi….

“Hei, hei apa kau tahu hari ini hari apa?”

Langkah kakiku langsung terhenti. Aku yang tadi sedang ingin berjalan kearah lift seketika langsung membelokan kakiku kearah ruangan yang tak jauh dari ruangan Thomas tadi. Saat aku mengintipnya lewat celah pintu yang terbuka, ternyata ruangan itu adalah sebuah pantry yang berisi dua orang wanita yang sedang asik membuat minuman sambil bergosip.

“Oh, aku tahu. Bukannya….ini adalah hari si ‘Fairy’?”

Fairy? Apa itu?

“Yup. Hari ini kan hari ulang tahunnya. Tapi, tetap saja sekarang sudah tidak berlaku lagi.”

“Kau benar. Semenjak hari itu, semuanya berubah. apalagi para Knight. Ketiga orang itu tiba-tiba terlihat seperti mayat hidup.”

Wanita berambut pendek yang sedang menghirup secangkir kopi mengangguk, “Dan tak lama setelah hari itu terjadi, tiba-tiba Tao pergi. Dan aku tidak pernah melihatnya lagi sampai sekarang. Entah kenapa.”

Sang wanita yang memakai scraft putih menaikkan sebelas alisnya, “Apa pengaruh seorangFairy sampai segitunya ya? Kalau sampai bisa membuat ketiga orang Knight uring-uringan sih, aku mau-mau saja jadi Fairy.”

“Hahahaha, sekarang kutanya, memangnya para Knight itu mau apa bila kau yang menjadi Fairy bagi mereka? Apa kau lupa syarat utama untuk menjadi Fairy?”

Wanita berambut pendek itu memutar kedua bola matanya, “Sesuatu yang tidak akan pernah bisa aku lakukan. Namun si Henrietta Angela bisa melakukannya dengan mudah.”

“Karena itu dia menjadi Fairy kan? Setidaknya sampai dua tahun lalu.”

Merasa sudah mendengar terlalu banyak aku langsung mundur beberapa langkah lalu menuju ke lift.

Pikiranku berputar. Fairy. Tao. Dua tahun lalu. Dan…..Henrietta. apa maksudnya?

Dan kata-kata yang paling mengusik pikiranku adalah, ‘syarat menjadi Fairy’. Memangnya ,Fairy itu apa? Dan…Bila dua tahun yang lalu Henrietta Angela adalah seorang Fairy, mengapa tiba-tiba dia berhenti? Apa ia mengundurkan diri?

“Permisi.”

Aku yang tadi sedang berfikir keras sambil menundukan kepala tiba-tiba mendongak. Dan kedua mataku langsung beradu dengan sepasang bola mata berwarna hazel yang terasa familiar.

“S-s-s-s-s-s-Sehun?”

Kedua mata Sehun membulat saat melihat wajahku. Mulutnya terbuka seperti ingin membicarakan sesuatu, namun pemuda itu malah mengatupkannya kembali. Ia berdehem, lalu berjalan melewatiku.

Ah, iya benar. Sehun kan tidak tahu bahwa gadis yang tadi menyebutnya sebagai ksatria baja hitam itu-diriku, sudah tahu siapa dia sebenarnya. Jika pemuda itu mengatakan bahwa ia pernah melihatku sebelumnya, itu sama saja mengonfirmasi secara tidak langsung bahwa ksatria baja hitam itu memang dirinya.

Aku menghela nafas lalu masuk ke dalam lift dan menekan tombol enam. Hanya dengan menunggu beberapa detik saja, tiba-tiba pintu lift jembali terbuka dan menampakkan sosok yang paling tidak ingin kulihat sekarang ataupun selamanya.

“Dari mana saja kau?”

“Aku kan habis dari ruangan Thomas. Kan tadi kau yang menyuruhku. Apa kau lupa?”

Jongin memutar kedua bola matanya, “Iya, tapi tidak selama ini bodoh. kupikir tadi kau tersesat.” , pemuda itu masuk ke dalam lift lalu menekan tombol tujuh, “Pemotretanku di lantai tujuh. Just in case, bila kau lupa.”

Aku mengangkat daguku tinggi-tinggi, “Aku nggak lupa ko.” padahal sebenarnya lupa.

Jongin menatapku remeh, “Yeahh, right.”

Ting!

Pintu lift pun kembali terbuka. Jongin berjalan beberapa langkah di depanku. Lalu masuk ke dalam ruangan berpintu kaca yang dipenuhi oleh orang-orang yang sedang sibuk berlalu-lalang.

“Hei, Max!”

Seorang pria bertubuh jangkung menoleh saat Jongin tiba-tiba memanggilnya. Pria itu tersenyum. Lalu menghampiri kami sambil membawa kamera SLR yang super besar, “Jongin-ah, apa kau juga akan terlibat dalam pemotretan Vogue hari ini?”

 “Yahh, seperti yang kau lihat.” , Jongin tersenyum hangat, lalu tiba-tiba pemuda itu merendahkan suaranya. Seperti sedang berbisik, “Emmm, Max,  apakah kau sudah melakukan seperti apa yang kuminta minggu lalu?”

“Soal dress fairy kan? Tenang saja. Benda itu ada di tanganmu sekarang.”

Dress….fairy?

Jongin mengangguk. Bibirnya tersungging senyum yang penuh kepuasan, “Bagus. Pastikan Sehun tidak bisa menyentuhnya.”

Max menepuk bahu Jongin akrab, “Kau bisa mengandalkanku.”

Pria jangkung itu lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Meninggalkan kami berdua yang diam dalam kebisuan.

“Hei, taruh kotak yang kau bawa itu di meja sana. Aku mau ganti baju dulu.” Jongin menunjuk sebuah meja bulat yang berada di samping lemari kaca berisi berbagai macam make-up. Lalu langsung berlalu pergi.

Aku menaruh kotak itu diatas meja. Lalu menyapu pandangan sambil terus berfikir. Sudah dua kali aku mendengar orang-orang membicarakan tentang Fairy. Jika aku mendengarnya sekali lagi maka aku akan…..

“Hei, hei apakah menurutmu Richy akan mencari pengganti Fairy?”

Aku menoleh dan menemukan dua orang fotografer sedang membersihkan lensa kamera nya sambil bergosip ria.

“Richy? CEO kita yang satu itu pasti sudah ingin mencarinya dari dulu. Tapi, apa kau lupa syarat untuk menjadi seorang Fairy?”

“Yah…itu tergantung para Knight juga sih. Padahal aku sangat penasaran siapakah yang akan menjadi pengganti Henrietta”

“Tidak akan ada yang bisa menggantikannya.” Salah satu fotografer yang memakai topi rajut itu berkata, “Secantik ataupun sebaik apapun gadis yang akan menduduki posisi Fairy nanti, tidak akan ada yang bisa menggantikan Henrietta di hatiku.”

Sang fotografer lain yang menjadi lawan bicaranya langsung tertawa, “Hei, jangan bilang kau jatuh cinta pada gadis itu? kuberi tahu, kalau itu memang benar maka kau sudah terlambat! Hahahaha.”

Fotografer yang memakai topi itu mengangkat bahu, “Sudah terlambat, dan aku juga pasti akan dibunuh oleh para Knight jika berani mendekati gadis mereka.”

Gadis mereka?

Oke. Cukup sampai disini. aku sudah tidak tahan.

“Em……permisi.” Kataku pelan sambil menghampiri dua fotografer tadi, “Aku sangat penasaran dengan apa yang kalian bicarakan dari tadi. kalau aku boleh tau, sebenarnya Fairy itu apa ya?”

Kedua fotografer itu saling berpandangan, “Siapa kau?”

“Em….Aku ini …..”

“Dia asistenku.”

Kami bertiga menoleh ke sumber suara dan menemukan Jongin yang sudah berdiri tegak dengan gaya bossy nya sambil mengenakan coat musim dingin keluaran Dior yang terbaru, “Apa yang sedang kalian bicarakan?”

“Tidak kami tidak membicarakan apa-apa.” Kedua fotografer itu tiba-tiba terlihat pucat, mereka berdua menundukan tubuh 90 derajat di depan Jongin lalu langsung berlalu pergi.

Pemuda itu lalu menoleh padaku “Apa yang sedang kau bicarakan dengan mereka?”

Aku melengos, “Bukan urusanmu.”

Jongin berdecak. Ia putar tubuhku menjadi menghadap wajahnya lalu menusuk manik mataku dengan pandangannnya yang tajam, “Jangan macam-macam.”

“Eh?”

“Ingat, disini bukan tempat biasa. Silver Knight Company bukanlah rumahmu kau tahu?” Ia lepas cengkramannya dari pundakku lalu berlalu pergi, “Jangan macam-macam atau aku akan membunuhmu.”

~SILVER KNIGHT~

Pemotretan Jongin berlangsung cukup lama, sehingga membuatku bosan dan aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar daripada Cuma duduk sambil memandangi pemuda itu difoto.

Saat sedang asik mengitari gedung ini sambil sesekali cuci mata melihat para model pria yang ganteng berlalu lalang, mataku menangkap Sehun.

Pemuda itu membawa sebuah buket bunga matahari. Ia lalu masuk ke dalam ruangan yang berada di pojok lorong setelah sebelumnya menengok ke kiri dan ke kanan seperti memastikan apakah ada orang yang sedang melihatnya. Beruntung aku sedang berdiri di dekat pot yang berisi tanaman pohon maple mini, jadi pemuda itu tidak dapat melihatku.

Jongin memang sudah memperingatkanku, namun rasa penasaran ini seakan menggerogoti hatiku. Dan bisa saja membunuhku bila aku tidak menyelidikinya sekarang.

Apa itu Fairy? Siapa Henrietta Angela sebenarnya? Dan mengapa Tao pergi dari perusahaan ini?

Aku berjalan sambil berjingkat kearah ruangan yang Sehun masuki tadi. lalu mengintip lewat celah pintu yang tidak tertutup rapat.

Sehun sedang meletakkan bunga itu ke dalam sebuah pot berbahan kaca. Ia lalu menaruh pot itu di depan sebuah altar yang tidak begitu besar. di altar tersebut terpasang sebuah foto gadis cantik yang kukenal sebagai……

“Henrietta…..Angela?”

Bruk!!

Entah apa, atau siapa yang mendorong punggungku, sehingga diriku dengan sukses jatuh terjerembab. Pintu ruangan ini yang tidak ditutup rapat mengakibatkan diriku jatuh kearah depan, dan dengan sempurna membuat Sehun yang tadinya sedang serius memandangi foto itu , menoleh padaku.

“Kau……..” kedua mata itu membulat melihatku, “Apa yang kau lakukan disitu?”

~TBC~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: