SILVER KNIGHT PART 2

sk1

TITTLE: SILVER KNIGHT PART 2

MAIN CAST: Jung Sae Byuk (OC)

Kim Jongin

Oh Sehun

Huang Zitao

MINOR CAST: Park Chanyeol / Lucas Javier

Kim Jumyeon / SuHo

Wu Yi Fan/ Kris

Choi Hee Ra/ Cassandra (OC)

Song Rae Bin/ Tamara (OC)

AUTHOR: AAL (@adlnayu / @deerjongin )

GENRE: Romance, Family, Friendship

Sae Byuk’s POV

“Silver Knight…..”

“SuHo Hyung?” Jongin berjalan menghampiri seorang pemuda yang sedang bersender di samping pintu, “Mengapa Hyung ada disini? Bukannya… Bukannya Hyung seharusnya ada di Paris untuk mengurus tentang pangkat Silver Knight yang baru saja jatuh padamu?”

Aku menampar pipiku sendiri. Sakit. Itu berarti ini bukan mimpi. Sekarang, dihadapanku berdirilah seorang Silver Knight! SILVER KNIGHT! Mimpi apa aku sampai bisa melihat seorangSilver dengan jarak yang sedekat ini?

Sang Silver Knight mengangkat bahunya santai. Lalu tersenyum, “Ternyata mengurus tetek bengek seperti itu jauh lebih cepat dari yang kubayangkan. Daripada itu…” Ia melempar pandangan padaku, “Siapa gadis itu? Aku tidak pernah melihatnya. Apa ia anak baru?”

Jongin tersenyum kecut, “Ia hanya gadis yang cari gara-gara denganku Hyung. Jangan dipikirkan.”

Aku yang tadi sudah melambung keatas langit karena sedang terpesona dengan Silver Knighttiba-tiba seperti dihempaskan langsung ke daratan karena mendengar suara menyebalkan milik pemuda itu.

Siapa juga yang ingin cari gara-gara dengannya? Dasar pemuda menyebalkan yang terlalu percaya diri!

“Oh. Gadis berani yang katanya menghancurkan image mu itu.” SuHo membentuk tanda kutip dengan jemarinya saat mengatakan ‘Katanya’, “Siapa namamu?”

“A-aku?” Aku menunjuk diriku sendiri dengan jari telunjuk, “J-Jung Sae Byuk.” Jawabku sambil tersenyum semanis mungkin..

“Nama yang cantik.” Ah, sang Silver baru saja memuji namaku. Rasanya aku dapat merasakan kedua kakiku seperti melambung diudara, “Apa yang Jongin lakukan sampai kau bisa terdampar disini?”

“D-dia…”

“Aku menyuruhnya untuk menjadi pesu-ah, maksudku asisten pribadiku Hyung.” Jongin menjawab cepat, “Dan kuharap Hyung tidak mencampuri urusanku.”

Setelah bicara tidak sopan dengan Thomas, sekarang ia berani berkata seperti itu kepada seorang Silver Knight. Pemuda ini benar-benar minta ditatar mulutnya.

“Begitu.” SuHo mengangguk mengerti. Raut wajahnya sama sekali tidak terlihat tersinggung, “Dan apakah Saebyuk-ssi menerima tawaranmu, Jongin-ah?”

“Tentu saja. Memangnya dia punya pilihan apa lagi?” Jongin memutar kedua matanya, “Dan kutegaskan sekali lagi bahwa ini bukan urusan mu SuHo Hyung.”

“Aku tidak mencapuri urusanmu, Jongin-ah. Aku hanya tidak ingin melihat gadis itu menyetujui tawaranmu dengan terpaksa.”

Hah! Makan itu Kim Jongin! Sekarang seorang Silver Knight sedang membelaku! Ia lebih memilih untuk membela seorang gadis biasa seperti aku daripada Knight bau kencur sepertimu!

“Aku tidak membela siapa-siapa, hanya saja…” Bahuku langsung merosot mendengarnya, “Yah, pokoknya. Jangan lakukan hal yang aneh-aneh padanya.”

L-Loh loh??? Hanya itu?? Apa SuHo hanya berpesan pada Jongin untuk tidak berbuat aneh-aneh padaku? Tentu saja dia tidak akan berbuat aneh-aneh padaku karena ia sudah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih buruk dari pada itu!

“Tentu. Kau bisa pegang kata-kataku Hyung.” Jongin tersenyum penuh arti lalu menatapku dengan alis terangkat yang terkesan meremehkan.

Aku meneguk salivaku. Riwayatku habis sudah.

SuHo tersenyum puas. Ia menatapku sebentar sebelum berbalik dan melambaikan tangan. pergi meninggalkan ruangan ini, “Welcome to our Castle…. Saebyuk-ssi.

~SILVER KNIGHT~

“Aku menyuruhmu datang jam delapan pagi, bukannya jam setengah sembilan.”

Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari pemuda berkulit tan yang sekarang sedang duduk diatas sofa sambil menyelonjorkan kakinya diatas meja. Ia menyilangkan tangannya di depan dada lalu menatapku sebal, “Baru sehari sudah telat. Kau tau sebagai seorang pesu-maksudku asisten, datang tepat waktu adalah sesuatu yang mutlak.”

Kemarin akhirnya aku menerima tawaran Jongin untuk menjadi asisten pribadinya. Dan tanpa basa-basi pemuda itu langsung menyuruhku untuk datang setiap pagi ke Company, kecuali hari-hari sekolah tentu saja.

Aku menarik nafas lalu menghembuskannya pelan-pelan. berusaha menahan keinginan untuk tidak menyumpal mulutnya dengan sepatu flat hitam yang sedang kupakai, “Bus yang tadi mau kutumpangi penuh, jadi terpaksa untuk menunggu bus selanjutnya, lalu saat ditengah jalan aku-”

Just cut the crap.” Jongin menghentakan tangannya keudara seperti sedang memberikan komando. “Aku kan tidak bertanya mengapa kau telat. Mengapa kau malah menjelaskannya dengan detail begitu?”

HAAAAAAAAA!!!!!!

Rasanya ingin berteriak tepat dihadapan mukanya. Namun akal sehatku langsung mencegahnya. Aku tidak mau cari gara-gara lagi dengan pemuda congkak ini. “Maaf kalau begitu.”

Jongin tidak mengubris omonganku . ia lalu tiba-tiba merogoh saku celananya. Pemuda itu mengeluarkan sebuah dompet lalu memberikanku beberapa lembar won.

“Apa ini? Gaji pertama?” Tanyaku polos.

“Siapa bilang aku akan memberimu gaji?” Jongin memutar kedua bola matanya, “aku ingin kau membelikanku segelas bubble tea rasa strawberry dengan uang itu.”

Oh.

Kerjaan pertama untuk hari ini huh?

“Sebenarnya di depan gedung ini ada sebuah Cafe. Hanya saja baru dibuka jam sepuluh. Sementara aku ingin meminum bubble tea itu sekarang.” Jongin berdecak sebal, “Di gedung ini juga terdapat cafetaria yang buka dua puluh empat jam. Tetapi Bubble tea yang dijual disana rasanya nggak jauh beda dengan sampah.”

Hatiku sedikit terjentik saat pemuda itu dengan mudahnya mengatakan ‘sampah’. Seakan-akan kata-kata itu sudah ribuan kali keluar dari mulutnya sehingga ia mudah sekali mengucapkannya.

Aku ingin bertanya, ‘memang kamu pernah nyobain makan sampah?’ Tapi nggak berani.

“Jadi kau mau aku membelinya dimana?” Tanyaku pada akhirnya.

“Ya… Kemana kek gitu. Yang jelas jangan di Cafetaria gedung ini. Terserah kamu mau beli dimana yang jelas sebelum jam sembilan minuman itu harus ada diatas mejaku, karena sebentar lagi aku ada pemotretan.”

Kemana. Kek. Gitu.

Enak banget ngomongnya. Jam segini kan jarang banget cafe ataupun kedai minuman yang sudah buka. Dan dia bilang apa tadi? Sebelum jam sembilan harus sudah tersiapkan diatas meja? Ini kan sudah jam sembilan kurang dua puluh menit! Memang dia pikir aku punya kekuatan teleportasi sehingga bisa berpindah-pindah tempat dengan cepat hah?!

Namun pada akhirnya aku mengangguk juga, “Yasudah. Kuusahakan bisa sampai tepat waktu.”

Good girl.” Jongin mengangguk puas lalu menggerakan tangannya seperti sedang mengusir seekor anjing, “Sekarang keluar karena aku ingin bersiap untuk kerja.”

Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat. Lalu berbalik meninggalkan ruangan kerjanya sambil berdoa kepada Tuhan agar diberikan keberanian untuk menyiram kepala pemuda congkak ini dengan bubble tea yang akan kubeli nanti.
~SILVER KNIGHT~
Akhirnya aku menemukan sebuah kedai minuman yang terdapat di samping sebuah toko buku tua yang kelihatan tidak menarik. Kedai minuman ini bernama ATaste! Sekilas kupikir tempat ini seperti toko yang mau bangkrut karena terlihat sangat kumuh dan tak terurus. Namun saat aku melongokan kepalaku lebih jelas, terdapat tulisan ‘Open‘ yang berada di pintu masuk jadi bisa dipastikan bahwa toko ini masih hidup.

Aku berjalan ragu memasuki toko yang kelewat sepi ini, lalu melangkahkan. Kedua kakiku kepada bapak tua yang berada di balik meja kasir. “Apa paman menjual Bubble tea?”

Bapak tua berkacamata yang tadi sedang sibuk membaca koran itu mendongak lalu tersenyum. “Tentu. Bubble tea rasa apa yang nona inginkan?”

“Em… Strawberry”

Bapak tua itu tersenyum lagi lalu berjalan menuju dapur, “Baik. Akan kusiapkan, silahkan tunggu sebentar.”

Daripada menunggu sambil berdiri aku pun memutuskan untuk duduk pada salah satu kursi kayu kosong yang terlihat reyot lalu menyapukan pandangan ke seluruh kedai.

Tidak ada pelanggan selain aku. Kursi-kursi dan meja yang mulai lapuk akibat termakan umur memang menimbulkan kesan yang suram. Namun daridulu aku selalu menyukai aroma kayu yang lapuk. Apalagi bau tanah yang habis disiram air hujan. Jadi, daripada merasa takut berada sendirian di Kedai tua ini, aku malah merasa tenang.

Aku mengecek arlojiku dan melihat bahwa jarum pendek sudah menunjukan pukul sembilan tepat, namun aku tidak peduli. Mungkin saat sampai di Company aku akan dimarahi lagi oleh Jongin karena terlambat untuk kedua kalinya, tapi ini kan salahnya juga karena banyak maunya.

Seorang pemuda berpakain serba hitam tiba-tiba berjalan memasuki toko. Pemuda itu mengenakan masker putih, kacamata hitam dan topi yang menutupi setengah wajahnya. Ia sedikit kaget saat mendapatiku berada di dalam kedai lalu celingukan seperti mencari seseorang. Dirasa tidak menemukan apa yang ia cari akhirnya ia mendudukan dirinya di seberang kursi yang berada sedikit jauh denganku lalu mengeluarkan buku yang berada di saku jaketnya dan mulai membaca.

Sudah lima belas menit berlalu, tapi bapak tua itu tak kunjung keluar dari dapur. Ponselku sudah meneriakkan lima kali misscall dari nomor yang tidak dikenal. Namun, aku dapat menebak bahwa ini pasti dari Jongin. Jangan bertanya darimana ia mengetahui nomor ponselku karena aku juga tidak tahu. Dari Thomas mungkin?

Pemuda berbaju hitam itu tidak sekalipun mendongakan wajahnya dari buku yang sedang ia baca. Membuatku berfikir juga mengapa ia bisa membaca buku dengan kedua mata yang ditutupi oleh kacamata hitam.  Merasa sangat bosan akhirnya aku pun berani untuk menyapanya, “Habis bermain jadi ksatria baja hitam ya?”

Pemuda itu mengangkat wajahnya, “Hah?”

“Habis kamu memakai pakaian serba hitam sih.” Aku memutar kedua bola mataku sambil tersenyum, “Lagi baca buku apa?”

Aku tidak dapat melihat pemuda itu sedang mengerjapkan matanya karena bingung atau tidak, namun akhirnya ia menjawab singkat, “Edgar Allan Poe.”

“Oh. Rasanya aku Pernah dengar. Tapi gak pernah baca buku yang judulnya itu.”

“Edgar Allan Poe itu nama penulisnya. Bukan judul.”

Dapat kurasakan kedua pipiku menghangat karena malu. Udah sok tahu, salah lagi! “Oh…. Ma-Maaf, aku nggak tahu.”

Pemuda itu mengedikkan bahunya lalu kembali membaca.

“Kamu…. Sering kesini?” Tanyaku lagi. Entah mengapa walau sudah malupun, rasa bosan ini seperti menarikku untuk mengajaknya bicara lebih jauh.

“Lumayan.” Jawabnya singkat tanpa mengangkat wajah.

“Memangnya, minuman disini enak ya? Aku baru pertama kali kesini.” Tanyaku lagi.

“Lumayan.”

“Menurutmu tempat ini agak serem gak sih? Pantas saja tidak ada orang yang mau masuk kesini.”

“Lumayan.”

“Ko jawabnya lumayan terus sih? Lagi bad mood ya?” Biasanya orang yang lagi bad mood kan maunya menjawab sesuatu hal dengan singkat. Siapa tau pemuda berbaju hitam ini juga.

“Lumayan.”

Aku mengerutkan alisku bingung. jangan-jangan pemuda ini memang hanya mengerti kata Lumayan-atau mungkin juga, ia malas menanggapi pertanyaanku yang memang annoying jadi pemuda ini lebih memilih menjawabnya seperti itu agar aku berhenti bertanya.

“Nona, bubble tea mu sudah siap.”

Aku memutar kepalaku dan mendapati si bapak tua sudah kembali kebelakang meja kasir sambil menyodorkan segelas bubble tea dan sedotan.

“Ah, terimakasih paman. Berapa harganya?”

Bapak tua itu lalu menyebutkan harganya dan dengan cepat aku langsung menyodorkan uang yang jadi Jongin berikan.

Pemuda berpakaian hitam itu berdiri dari tempat duduknya, lalu Berjalan kearah si bapak tua. Sebelum sempat membuka mulut untuk berbicara, tiba-tiba si bapak tua itu langsung bertanya kepada sang pemuda, “Sudah lama tidak kesini. Apa kabarmu nak?”

“Lumayan.”

Astaga.

Ini orang kalau ngomong bayar kali ya? Pelit amat. Mana yang diomongin kata-katanya itu juga lagi. Dasar nggak kreatif.

“Mau pesan bubble tea rasa cokelat seperti biasa?” Tanya bapak tua itu lagi.

Sang pemuda mengangguk singkat. “Bapak…. Apa kabar?”

Si Bapak tua tersenyum, “Seperti yang kau lihat. Aku sehat-sehat saja.”

“Bagus kalau begitu.”

Pemuda itu memang menutup mulutnya dengan masker, namun aku dapat melihat bahwa ia sekarang sedang tersenyum. Sepertinya ia tidak sejutek yang aku kira.

“Aku senang kamu akhirnya bisa menyempatkan datang kesini. Kau tahu, semenjak isteriku meninggal aku sangat kesepian.” Kata bapak tua itu sambil tersenyum lemah.

“Maaf. Pekerjaanku sedang menumpuk jadi tidak bisa sering-sering menemanimu.”

“Tak apa. Jangan sampai karena aku pekerjaanmu jadi terbengkalai. Itu malah membuatku sedih.”

“Tenang saja. Itu tidak akan terjadi.”

Si Bapak tua berjalan kembali menuju dapur lalu tak sampai semenit ia keluar sambil membawa segelas bubble tea dan menyerahkannya kepada pemuda itu, “Nih, aku selalu menyimpannya di kulkas karena tahu kau akan datang. Kubuat khusus untuk pemuda sibuk sepertimu yang tidak mempunyai waktu untuk menunggu.”

Pemuda itu tertawa renyah. “Terima kasih.”

“Sama-sama, Sehun-ah.”

Eh?

Pemuda itu mengeluarkan beberapa lembar won dan memberikannya kepada si bapak tua lalu berbalik pergi. “Kalau begitu aku permisi dulu. Besok kuusahakan untuk datang lagi.”

“Pintu kedai ini selalu terbuka untukmu, Sehun-ah.”

Sehun. Si bapak tua itu mengatakan namanya adalah….. Sehun.

Tanpa pikir panjang lagi aku langsung keluar dari kedai ini lalu memutar kepalaku ke segala arah untuk mencari pemuda berpakaian hitam tadi. Ia sedang berada di halte bus sambil menyeruput minumannya. Maskernya yang sedikit di buka membuatku dapat melihat wajahnya yang putih bersih.

Tidak salah lagi! Itu Sehun! Oh Sehun!

Lalu tanpa memperhatikan sekitar aku berteriak sekeras-kerasnya, “KSATRIA BAJA HITAAAAM!”

Sehun tersedak minumannya. Lalu menoleh padaku yang sedang berlari kearahnya, “Kau….?”

“Ksatria baja hitam!” Kataku lagi. “Apa sekarang kau akan bekerja untuk menumpas kejahatan?”

“Hah?”

“Aku berharap kau sampai tujuan dengan selamat!” Dapat kurasakan jantungku berdegup sangat keras seperti hendak meledak. kedua tengkuk kakiku bergetar seperti tak sanggup untuk menopang tubuhku lagi. “Se-semoga kau bisa menghabiskan musuh-musuhmu dalam sekali tebas dan menyelamatkan bumi!”

“………….”

“Ksatria baja hitam, Hwaiting!” Kataku sambil mengepalkan tangan dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

Bus tiba-tiba datang dan dengan otomatis membukakan pintu untuk penumpang. Sehun menatapku lagi dari balik kacamata hitamnya, lalu berkata sebelum akhirnya masuk ke dalam bus, “Terima kasih.”

Dan saat Bus mulai berjalan meninggalkan halte. Tungkai kakiku benar-benar lemas dan aku langsung jatuh terduduk di atas aspal. Tanganku bergetar menutup mulutku yang tidak bisa berhenti mengembangkan senyum. Benar-benar seperti mimpi. Bahkan mimpiku pun tidak pernah sebaik ini. Hari ini Bisa bicara dan berada dekat dengan Sehun. Keberuntungan apa yang bisa lebih baik daripada ini?

Aku merogoh saku dan mengambil ponselku yang berteriak karena sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Tanpa kuberitahu lagi, kalian pasti tahu dari siapa kan?

‘Kubunuh kau bila lima menit lagi aku tetap tidak menemukan minuman itu ada di atas mejaku, Gadis mesum.’

-TBC-

Haloooo. AAL kembali lagi dengan membawa chpt 2 ^^.

Hmmm mau ngomong apa ya, aku nggak begitu pinter sih bikin kata-kata untuk readers. ^^. Cukup kasih kesan dan pesan di komen aku udah seneng banget. Makasih untuk yang sudah mau baca dan komen ^^. Kita ketemu lagi di chpt selanjutnya ^^.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: