New Family Part 2

TITTLE: NEW LIFE (PART 2)

 

CAST: Kim Jongin

Sehun

Kyungsoo

Chan Yeol

Baekhyun

Junmyeon

Eun So (OC)

Bibi Nam (OC)

 

AUTHOR: AAL (@adlnayu)

 

GENRE: Family, romance.

 

LENGTH: Chapter

 

Dan kurasakan pandanganku mengabur dan semuanya menjadi gelap.

.

.

.

“Kim Jongin? Kim Jongin kau dengar aku? Ini aku, Kyungsoo. Hei, bangunlah!”

Aku mengerjapkan kelopak mataku yang terasa berat. Punggungku terasa pegal dan leherku terasa sakit sekali. Kepalaku masih terasa sedikit pusing. Aku tidak bisa mengingat apa-apa selain wajah Sehun yang berubah mengeras saat ia melihat aku menduduki salah satu mainannya, “K-Kyungsoo..Hyung?”

“Ya, ini aku. Coba kau lihat, berapa jariku?” ia menggerakan jemarinya tepat di depan wajahku.

“ti…tiga?”

“benar. itu berarti kau tidak apa-apa.” Ia menghela nafas lega. Kedua tangannya membantuku untuk duduk, “Bibi Nam, tolong ambilkan segelas air untuknya. Sepertinya ia masih agak kaget.”

Bibi Nam mengangguk patuh, lalu berjalan ke dapur, “Baik, tuan.”

“huuuft, akhirnya kau sadar juga.” Seorang pria berambut keriting yang agak sedikit gimbal tiba-tiba nyeletuk. Pria itu mendekap sebuah bantal sofa sambil menyelonjorkan kedua kakinya yang panjang diatas meja, “Dulu, saat aku tidak sengeja menginjak boneka Mario Bross milik Sehun, ia mencakar pipiku dan menimbulkan luka sayatan sepanjang lima centimeter.”

“Kau masih lebih baik dariku, Chanyeol-ah. Sehun pernah menonjok wajahku karena aku menghilangkan satu keeping puzzlenya.” Pria bermata sipit di sampingnya ikut menanggapi. Ia menoleh padaku, lalu berkata, “Kau seharusnya bersyukur Jongin-ah. Ia baru menggigitmu tapi kau sudah pingsan duluan.” Pria itu tergelak. Memperlihatkan deretan giginya yang rapih sempurna.

“tu-tunggu. Kalian ini…siapa?”

Pria berambut keriting gimbal itu seketika bertatapan dengan si sipit. Si keriting gimbal lalu menoleh padaku, dan tersenyum, “Ah, ya kita belum berkenalan ya? Namaku Chanyeol, aku adalah kakak keduamu.”

“Dan aku Baekhyun.” Si sipit mengulurkan tangannya untuk berjabatan denganku, “aku adalah kakak tertua disini. Salam kenal ya, Jongin-ah.”

Aku menjabat tangannya ragu, “i-iya. sama-sama Hyung.”

Kyungsoo tiba-tiba berdiri, lalu memeriksa belakang leherku. Ia menekan tengkukku, lalu sedetik kemudian aku menjerit sekeras mungkin. “AAAAAAAAAAAAAA!!!, H-Hyung, apa yang kau lakukan?”

“mengecek seberapa dalam Sehun menggigitmu.” Ia meniup-niup tengkukku, lalu mengambil sebuah handuk dan ember kecil berisi air, “Sini, kubersihkan secepatnya agar tidak infeksi.”

Aku mengangguk pasrah lalu langsung membuka kaus berwarna hitam yang sedang kupakai. Kyungsoo mencelupkan handuk itu ke dalam air, lalu dengan hati-hati ia tepuk-tepukan pada tengkukku, “Lain kali, tolong perhatikan sekelilingmu jika sedang bersama anak itu.” katanya, “ia tidak segan-segan mencelakaimu jika kau menyentuh mainannya. Mengerti?”

Aku mengangguk pasrah. Otakku masih mengingat bagaimana ekspresi Sehun yang datar tiba-tiba mengeras saat melihatku tidak sengaja menduduki mainannya. Padahal Aku sendiri tidak tahu mainan apa yang tadi aku dudukki. Mungkin sebuah kepingan puzzle ataupun Leggo. Sekilas pemuda itu terlihat seperti Edward Cullen yang siap untuk menghabisi aku-sang Jacob Black. Bedanya aku jauh lebih manis dari pada Jacob.

“ngomong-ngomong Kyungsoo Hyung, mengapa  Sehun sepertinya sensitif sekali dengan mainannya?”

Chanyeol yang sedang mengganti channel di televisi tiba-tiba nyeletuk. Sepertinya pria ini suka sekali nimbrung dalam percakapan orang lain, “Karena hampir semua mainan yang ia punya dibelikan dan dipilih langsung oleh ayah untuknya.”

Aku tidak tahu mau merespon apa sehingga aku hanya berkata “Oh.”

“Dan kau harus minta maaf padanya Jongin-ah.” Baekhyun yang sedang mengunyah potato chips ikut-ikutan nyeletuk, “Jika tidak, dimatanya kau akan terlihat seperti orang jahat.”

“Loh, mengapa aku yang minta maaf? aku kan tidak sengaja. Lagipula, ia kan tidak harus main fisik begitu jika ingin mengatakan bahwa aku tidak diizinkan menyentuh mainannya.” Kataku tidak terima. Aku tahu kalau sekarang aku sedang berhadapan dengan anak yang mengidap penyakit cacat mental tapi keadilan harus tetap ditegakkan, benarkan?

“Peraturan kita, tidak berlaku bagi dia.” Kyungsoo yang sudah selesai membersihkan lukaku, memberi isyarat agar aku kembali memakai kaos hitamku, “Ia tidak mengerti mana yang benar dan salah. Jika itu bisa melindungi dirinya sendiri, apapun akan ia lakukan. Mengerti?”

Sebenarnya aku tidak mengerti maksudnya. tapi melihat ekspresi wajah Kyungsoo yang terlihat sangat letih aku terpaksa mengangguk.

“Di dalam tubuhnya yang sudah berusia delapan belas tahun, bersemayam jiwa seorang anak berumur empat tahun. Jadi, bersabarlah dalam menghadapinya.” Baekhyun menawarkan potato chips yang sedang ia makan. Aku menggeleng tanda menolak. Kerongkonganku seperti  tidak bisa diajak kerja sama untuk menelan apapun.

“Yah…anggap saja gigitan di lehermu itu sebagai tanda pertemanan darinya.” Chanyeol yang kini sedang menonton siaran olahraga berkata dengan nada santai seolah kalimat yang baru saja diucapkan adalah sesuatu yang wajar.

Aku mendengus sebal, “Tanda pertemanan dengan gigitan di leher? Memangnya dia itu laba-laba Spiderman apa?!”

Baekhyun, Chanyeol dan Kyungsoo seketika menoleh kearahku. Beberapa detik kemudian mereka betiga tertawa terbahak-bahak. Sampai-sampai potato chips yang sedang Baekhyun kunyah meloncat keluar dari mulutnya dan jatuh tepat diatas buku gambar Sehun.

Sedetik kemudian kami berempat bertukar pandangan horror, “Kita semua akan mati.”

~NEW LIFE ~

 

Untungnya, potato chips tadi jatuh keatas kertas gambar yang belum sempat di corat-coret oleh Sehun. Jadi kami berempat sepakat untuk merobek kertas yang masih polos itu dengan hati-hati sehingga Sehun tidak akan menyadari  bekas yang ditimbulkan oleh potato chips itu.

Bibi Nam bilang, setiap jam lima sore Sehun selalu bermain di taman yang ada di sekitar komplek perumahan ini. Dan berhubungan aku belum sempat mengatakan maaf padanya, aku bermaksud untuk mengucapkannya di taman itu saja.

Aku melangkahkan kakiku sesuai petunjuk yang telah diajarkan oleh Bibi Nam. Berbeloklah ke kiri, lalu lurus terus sampai menemui rumah ber cat hijau. Habis itu berbeloklah ke kanan, maka akan terlihatlah sebuah taman yang cukup besar dengan permainan anak yang sangat lengkap.

Aku menajamkan penglihatanku saat sudah sampai di taman itu. karena sudah sore suasana taman bisa dibilang sepi. Hanya ada dua anak perempuan yang sedang bermain perosotan. Mataku menangkap sosok Sehun yang sedang bermain ayunan sendirian. Pemuda itu hanya menggerakan sedikit badannya tanpa berani mengayunkan ayunan itu tinggi-tinggi. Piyama nya yang kebesaran makin memperlihatkan punggungnya yang bungkuk.

Kakiku  baru saja ingin menghampirinya, saat mataku tiba-tiba menangkap tiga orang anak lelaki berjalan mendekatinya.

Anak lelaki berbadan besar mirip monyet yang sepertinya adalah ketua kelompok berjalan di depan. Di kawal oleh dua orang temannya yang kurus. Dimataku Mereka terlihat seperti Giant dan dua orang Tsuneo.

“Hey, apa yang sedang kau lakukan disana idiot?” si gendut berkacak pinggang sambil menatap Sehun dengan pandangan meremehkan, “itu adalah wilayah kami. Lebih baik kau menyingkir sekarang. kalau tidak ,kami akan menggunakan cara kasar.”

Wah,wah. Aku berdecak sambil geleng-geleng kepala. Usia si gendut monyet mungkin baru menginjak dua belas tahun, tapi ia sudah berani bicara kasar seperti ini. di panti asuhanku dulu, anak-anak model seperti ini sih pasti sudah dihukum untuk membersihkan toilet selama seminggu.

“Kau tidak dengar apa kata Bos hah?!” si cempreng Tsuneo tiba-tiba berteriak, “Menyingkir dari sana, dasar idiot!”

Sehun mengangkat wajahnya , menatap ketiga anak itu dengan wajah datar lalu menggelengkan kedua kepalanya pelan.

“Bos, dia ngajak berantem!” Si cungkring kurus menarik-narik lengan si gendut monyet, “Habisin aja bos!”

Si gendut monyet mengangguk. Ia mengumpulkan beberapa kerikil yang ada di sekitarnya lalu mulai menimpuki Sehun dengan membabi buta, “Rasakan ini, idiot!”

Si cempreng Tsuneo dan si cungkring kurus ikut-ikutan melempari Sehun dengan kerikil seperti apa yang sedang Bos mereka lakukan.

Sehun meringkuk ketakutan. Ia terjatuh dari ayunannya lalu berjongkok sambil melindungi kepalanya dengan kedua tangannya yang bergetar. Dari sini aku dapat mendengarnya berkata, “A-Ayah….. Ibu…..”

“Panggil saja terus, kami tahu orang tuamu tidak akan pernah datang! Dasar idiot!” Si gendut monyet makin semangat melakukan aksinya tanpa sedikitpun merasa kasihan.

Kini aku dapat melihat Sehun mengeluarkan air mata. tangannya yang kurus bergetar saat menghalau kerikil-kerikil itu agar tidak mengenai wajahnya tanpa sedikitpun berniat untuk membalasnya. “A-Ayah… tolong Aku…. Ibu dimana…. Tolong aku….”

“Dasar idiot! Orang tuamu itu sudah mati!”

“HEY!!!”

Trio bocah rusuh itu sontak menoleh kearah sumber suara. Kearahku. Mereka menatapku dari ujung kaki hingga ujung rambutku dengan tatapan curiga, “Kakak siapa?”

“Heh? A-aku…”

“Mengapa kakak mencampuri urusan kami?” Tanya si gendut monyet.

Si cempreng Tsuneo mengangguk, “Apa kakak kenal dengan si idiot ini?”

“Jangan-jangan, kakak membelanya ya?” si kurus cungkring ikutan menambahkan.

Disodori rentetan pertanyaan seperti ini, jelas aku bingung mau menjawabnya dari mana. Trio rusuh ini menatapku lekat-lekat seakan tidak akan melepaskanku sebelum aku menjawab pertanyaan mereka.

Aku melempar pandanganku pada Sehun yang masih meringkuk ketakutan seperti anak kucing yang baru saja masuk ke dalam kubangan air. Setengah hatiku merasa kesal padanya karena ia tidak bisa membela dirinya sendiri. Aku tahu ia cacat mental tapi itu juga tidak menutup kemungkinan untuk tetap bertahan. Tidak mungkin ia hidup selamanya di belakang perlindungan orang lain kan?

Tiba-tiba aku teringat kata-kata yang tadi diucapkan oleh Baekhyun. Bahwa di dalam tubuh berumur delapan belas tahun itu, bersemayam jiwa anak kecil berumur empat tahun. Walaupun fisiknya bisa saja melawan trio bocah rusuh ini, pikirannya akan takut duluan saat merasa dirinya terancam.

“Hei, kakak! Jawab pertanyaan kami!” Si gendut monyet menyadarkanku dari lamunan.

Melihatku yang masih mematung seperti orang bodoh, si gendut monyet memberikan isyarat kepada dua temannya untuk melanjutkan aksinya memukuli Sehun dengan kerikil.

Tangisan Sehun terdengar makin keras. Dan itu membuat trio bocah rusuh makin semangat untuk menyiksanya.

Aku ingin bergerak untuk menghentikan mereka, namun kedua kakiku seperti menempel di tanah. Seakan-akan diriku ingin lebih lama melihat Sehun tersiksa seperti ini. Aku tahu yang kulakukan itu salah. Namun aku ingin sekali membalas perlakuan Sehun yang seenaknya menggigit leherku. Aku ingin memberinya sedikit pelajaran.

Aku hendak berbalik pergi dan meninggalkan Sehun sendiri, sampai sebuah suara tiba-tiba menyusup ke dalam otakku.

Bagaimana pun juga kalian tetap keluarga. Ingat?

Seperti disambar petir aku langsung mengambil bola tendang yang berada tidak jauh dariku lalu sekuat tenaga aku menendang bola ini hingga menghantam perut si gendut monyet dan membuat bocah itu jatuh terjerembab.

 

“Bos! Bos tidak apa-apa?” si cempreng Tsuneo langsung membantu si gendut monyet untuk berdiri, “Hei, apa yang kakak lakukan? Mengapa kakak membela si idiot itu?”

Idiot.

Entah mengapa aku baru menyadari betapa kejamnya kata itu.

“Kalian yang idiot dasar bocah sialan!” balasku dengan berteriak, “beraninya menyiksa orang lemah dengan main keroyokan. Dasar pengecut!”

Trio rusuh itu mengerutkan alisnya bingung lalu saling berpandangan. “Kakak membela dia?”

“ya! Ada masalah?” Kataku sambil membusungkan dada.

Si gendut monyet berkacak pinggang “kenapa? Kenapa kakak membelanya?”

Kedua tanganku seketika bergetar. Bola mataku bergerak liar memperhatikan trio rusuh dan Sehun secara bergantian. Pemuda itu sekarang masih tetap meringkuk ketakutan. Bahunya bergetar dan air matanya belum berhenti mengalir. Aku benci sekali dengan sifatnya yang sangat pengecut. Namun seperti apapun dia, ia tetap adikku. Keluargaku.

Aku mengambil bola tendang tadi. Memutar-mutarnya sebentar lalu dengan gaya Kapten Wakabayashi aku langsung melemparkannya kearah trio rusuh tadi seraya berteriak,

“KARENA DIA ADALAH ADIKKU, DASAR BOCAH SIALAN!!”

~NEW LIFE ~

 

“Sehun-ah, kau tidak apa-apa? Tahan sedikit lagi ya ,sebentar lagi kita akan sampai di rumah.”

Pemuda yang berada di atas punggungku tidak menjawab dan tidak pula mengangguk. Ia hanya menangis lebih keras.

Ingin rasanya aku menjatuhkan pemuda ini dari punggungku lalu memarahinya habis-habisan. Namun seketika aku sadar. Jika tadi aku menghentikan aksi trio rusuh lebih cepat, Sehun tidak akan terluka sampai seperti ini. Salah satu krikil yang dilemparkan oleh trio rusuh tadi tepat mengenai pelipisnya. Sehingga menciptakan luka menganga yang cukup lebar.

Saat aku ingin membawanya pulang, Sehun malah ngambek. Ia tidak mau berdiri. Jadi dengan sangat terpaksa aku pun menggendongnya. Tubuhnya memang kurus namun terasa sangat berat di punggungku. Mungkin karena tinggi badan kami yang hampir sama, aku jadi kerepotan memegangi kakinya yang panjang. Tulang-tulangnya serasa menimpa badanku, namun terus kuusahakan kakiku agar terus melangkah.

“Kau harus membayar semua ini loh, Sehun-ah.” Gerutuku pelan sambil membenarkan posisi gendonganku. Untungnya darisini aku sudah dapat melihat atap rumah kami, itu berarti penderitaanku pun akan segera berakhir.

“Ah, iya. Sehun-ah.” Panggilku lagi, “Maaf karena aku sudah menduduki mainanmu. Aku tidak sengaja. Kau mau memaafkan aku kan-“

Aku belum sempat menyelesaikan omonganku, sampai tiba-tiba aku mendengar suara dengkuran halus di belakang telingaku. Sial! Anak ini malah tertidur disaat aku ingin meminta maaf padanya.

Kupikir aku akan benar-benar menjatuhkannya dari gendonganku, namun ternyata tidak. Ada sedikit perasaan hangat saat melihat wajahnya yang damai tertidur pulas. Kalau sedang seperti ini, ia terlihat seperti seorang malaikat. Aku tertawa pasrah sambil tersenyum lemah, seraya berbisik, “Selamat tidur, adikku.”

~NEW LIFE ~

 

“Astaga, tuan muda Sehun!” Bibi Nam memekik ngeri saat melihat luka yang ada di pelipis Sehun, “Bagaimana ini bisa terjadi?”

Aku pun menjelaskan secara singkat tentang apa yang terjadi di taman. Seisi rumah langsung geger saat mendengar Sehun terluka. Kyungsoo langsung mengambil kotak P3K di laci obat. Chanyeol dengan cekatan langsung membawakan segelas air putih untuk menenangkan Sehun. Baekhyun yang tadinya hanya bisa diam mematung akhirnya cuma bisa menempatkan dirinya duduk di samping Sehun lalu sesekali mengelus pundak pemuda itu.

Gila. Aku yang sudah susah payah menggendongnya malah tidak diperhatikan sama sekali. Sehun bahkan sama sekali tidak mengucapkan terima kasih padaku yang jelas-jelas sudah menyelamatkannya dari trio bocah rusuh tadi. Kalau tahu begini lebih baik aku tidak menuruti kata nurani ku dan tetap meninggalkan Sehun ditaman sendirian, agar bisa melihat satu penghuni rumah ini kebakaran jenggot.

“ini sudah sore. Ayo, tuan muda Sehun mandi dulu.” Bibi Nam membalut tubuh ringkih Sehun dengan handuk besar lalu membawanya ke kamar mandi.

“L-Loh tunggu-tunggu. Sehun…masih dimandikan?” tanyaku tak habis pikir.

Kyungsoo mengangguk, “ya. Kami tidak mau kejadian seperti kepalanya terantuk shower ataupun tubuhnya terpeleset di lantai kamar mandi yang basah lalu kepalanya membentur pinggiran Bath-up terjadi.”

“Ta-tapi bagaimanapun juga, ia harus belajar mandiri. Sehun tidak boleh selamanya bergantung pada orang lain, Hyung.”

Chanyeol yang tadi sedang sibuk memberikan air minum untuk Sehun tiba-tiba angkat bicara, “Aku tahu, Jongin-ah. Tapi sudah tanggung jawab kami untuk menjaganya. Kami tidak akan memaafkan diri kami sendiri bila sesuatu yang buruk terjadi padanya.”

Merasa tidak akan ada yang memihakku disini, aku menghela nafas dan berjalan pelan meninggalkan ruang tamu. Kaki ku perlahan meniti tangga melingkar ini menuju kamar dengan wajah yang tertunduk. Tiba-tiba kedua mataku menangkap sepasang kaki yang terbungkus oleh sandal rumah bergambar Hello Kitty.

Saat kudongakan kepalaku, kedua mataku membulat saat melihat sosok seorang gadis berkepang dua sedang berdiri tepat dihadapanku. “wuah!” aku terlonjak kaget, “K-Kau siapa?”

Gadis berkepang dua itu memiringkan kepalanya. Entah kenapa ia mengingatkanku pada karakter Sakuno dalam anime Prince Of Tennis, “Aku Eun So. Keponakannya bibi Nam.” Jawabnya, “Kau sendiri siapa?”

“A-aku Kim Jongin. Mulai hari ini aku akan tinggal disini.”

“Oh! Anak dari Tuan Junmyeon yang telah lama menghilang?”

Aku menggeruk tengkukku yang tidak gatal, “Y-Ya, bisa dibilang begitu.”

Gadis bernama Eun So itu tersenyum manis. Aku jadi ingat dengan gambar seorang gadis bernama Eun So yang tertempel di kulkas. Apakah yang dimaksud Eun So itu dirinya? “Salam kenal ya, Tuan Jongin.”

“E-Em, Eun So-ssi, boleh aku bertanya sesuatu?” tanyaku saat melihat Eun So hendak berjalan melewatiku.

“Ya, silahkan saja.”

“Apa hubunganmu dengan keluarga ini?”

Eun So mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Ia memperhatikan wajahku lekat-lekat, lalu menjawab “Aku adalah teman dekat tuan muda Sehun. Kami sudah bersahabat sejak kecil. aku disini bertugas untuk mengajaknya bermain dan memandikannya.”

“J-Jadi yang memandikan S-Sehun itu…..Kamu?!”

“Ya. Kalau tidak dia tidak akan mau mandi.” Ia menjawab santai sambil mengangkat bahunya.

Dasar Sehun sialan. Genit juga dia. Ternyata di dunia ini ada beberapa keuntungan yang tidak bisa didapatkan oleh orang-orang normal sepertiku. Contohnya seperti dimandikan oleh gadis manis seperti dia.

Sedetik kemudian aku merasakan kedua pipiku terasa hangat. A-Astaga, apa yang baru saja kau pikirkan Kim Jongin! Cepat hapus pikiran kotormu itu!

Eun So terkikik melihat wajahku yang berubah merah. Ia melengkungkan senyum lalu berkata, “Aku tahu kamu pasti sebal dengan tingkahnya yang kekanak-kanakan, tapi ingatlah. Tuan muda Sehun adalah orang yang sangat baik. Sama seperti Tuan Junmyeon.”

“Jujur aku sama sekali tidak mengenal sosok seorang Junmyeon.” Kataku jujur sambil menyandarkan punggungku ke tembok, “Seperti apa dia, bagaimana sifatnya, aku sama sekali tidak tahu.”

“Percaya atau tidak, Tuan Junmyeon benar-benar mirip denganmu.”

“H-hah? Apa?” aku mengerjapkan mataku tidak mengerti.

Eun So tersenyum penuh arti. Ia bertolak membelakangiku lalu kembali menuruni tangga, “Suatu hari nanti kau akan tahu.”

~NEW LIFE ~

 

Esok paginya aku bangun agak siang. Rumah sudah sepi saat aku menuruni tangga. Bibi Nam bilang ketiga kakak tiriku itu sudah berangkat kuliah sejak jam tujuh pagi. Dari ceritanya aku baru tahu kalau kakak-kakak tiriku hanya terpaut usia satu sampai dua tahun. Mungkin karena usia yang terpaut tidak terlalu jauh itulah yang membuat mereka bertiga lebih mirip sahabat dari pada saudara.

Dari cerita Bibi Nam juga aku tahu bahwa sekarang Sehun sedang ke rumah sakit untuk terapi .Jangan Tanya mengapa karena aku sendiri juga tidak tahu. Bibi Nam memang menjelaskan sebabnya namun otakku tidak mampu untuk menangkap istilah – istilah kedokteran yang luar biasa rumit itu.

Lagipula diriku masih kesal dengan Sehun yang tidak mengucapkan terimakasih padaku. Ya, bilang aku ini kekanak-kanakan namun aku memang paling benci dengan orang yang tidak tahu sopan santun seperti dia. Walau kutahu dia memang punya keterbelakangan mental, seharusnya itu tidak menghalanginya untuk tetap bersikap sopan.

Aku menyeret kedua kakiku untuk mengambil segelas air dingin yang ada di kulkas. Kedua mataku masih tidak bisa diajak kompromi. Tidak berlebihan jika aku mengatakan, aku bisa saja tertidur di dapur ini.

Saat aku menutup pintu kulkas, mataku menemukan sesuatu yang baru tertempel disana. Seorang pemuda berkaus hitam yang di gambar diatas selembar kertas , tertempel di pintu kulkas. Pemuda berkulit sawo matang itu sedang melempar bola tendang kepada tiga bocah yang berdiri tidak jauh darinya.

Tidak ada penjelasan siapakah gerangan yang menciptakan gambar sederhana ini.  Namun aku dapat merasakan dadaku terasa hangat dan kedua mataku berkaca-kaca, saat membaca tulisan Hangul yang tertera disana.

 

  Jongin Hyung , Sang pembela kebenaran.

 

-TBC-

Advertisements

2 Comments (+add yours?)

  1. Rei
    Sep 02, 2012 @ 03:16:26

    Uwaa, sekali lagi saya bilang ‘FFmu keren maksimal, chingu’!! Tapi saya mo protes nih. Masa rambut Chanyeol dibilang gimbal? O.o

    Kai jadi lucu deh di sini. Cara ngomongnya itu serius, tapi kadang2 bikin saya nyengir gaje. Apalagi pas dia nyama2in orng sama tokoh komik O.o

    Keep writing, chingu ^^

    Reply

  2. puput
    Sep 05, 2012 @ 06:14:01

    ceritanya bkn penasaran… ayo lanjutkan thooorrr

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: