About Us and Our Memories

Judul              : About Us and Our Memories

Author            : Indhaw (@Indahhhaaawww)

Cast :

–       Park Jiyeon

–       Jung Jinwoon

–       Im Seulong

–       Lee Min Young (Min)

–       Ham Eunjung

Genre : Sad, Romance

Tipe : Chapter

~Gyeongpodae Beach~

Seorang gadis tersenyum menatap ombak yang terus menerus menghantam batuan dipinggir pantai. Angin berhembus kencang memebelai rambut-rambutnya yang halus dan berwangi seperti anak bayi. Sementara disebelah gadis itu Im Seulong, kekasih Jiyeon -gadis itu- yang sudah Jiyeon pacari selama hampir 2 tahun ini yang dulu merupakan seniornya duduk dengan muka pucat disebelah gadis itu. Bunyi ombak di pantai menyeruak diantara keheningan mereka berdua.

“hmm Jiyeon~ah. Ada baiknya hubungan kita sampai disini saja” keheningan terhenti dengan kata-kata Seulong yang seketika seperti gunting yang menyobek hati Jiyeon yang sudah tertata rapih didalam senyumnya malam itu.

Jiyeon yang sudah mendengarnya dengan jelas tetap diam dan tersenyum mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut kekasihnya itu. Gadis itu sebenarnya sudah menduga bahwa suatu saat Seulong akan mengatakan hal ini.

“Kalo itu keputusan Oppa, aku bisa terima. Tapi….apa yang membuat Oppa berfikiran untuk mengakhiri hubungan kita?” tanya Jiyeon dengan tenang walaupun sebenarnya hatinya tidak tenang.

Seulong tetap diam tak menjawab satu pertanyaan pun yang terlontar dari mulut gadis yang berada dihadapannya itu. Sementara Jiyeon sibuk untuk menenangkan hatinya yang sekarang sedang bertanya-tanya.

“Kenapa? Apa susah jelasin alasan Oppa ke aku? Aku bakalan terima apapun alasan yang Oppa berikan” ucap Jiyeon dengan suara lirih. Seulong menatap mata gadisnya itu yang sekarang sedang menahan tangisnya yang hampir pecah. Ingin Ia merengkuhnya dan menghapus tangisnya, tapi Pria itu mengerti bahwa itu hanya membuat semuanya makin memburuk bukan membaik.

“Kenapa Oppa?” ucap gadis itu kembali.

“Aku ngerasa kita udah ga cocok lagi Jiyeon~ah, itu yang membuat aku memutuskan ini semua.” dusta Seulong. Mengucapkan alasan yang sesungguhnya sama saja menghancurkan semuanya.

“Oppa, Jiyeon cuman minta Oppa jujur. Jiyeon bakalan terima apapun alasannya. Jujur saja Oppa, jujur.” suara Jiyeon lebih lirih lagi sekarang.

Seulong tetap bungkam. Meremas-remas tangannya sendiri merupakan tanda bahwa dia cemas. Jiyeon hafal sekali dengan kebiasaan yang sering Seulong lakukan ketika cemas atau pun takut. Ya, kelakuan kebiasaannya sama seperti yang sekarang ia lakukan.

“sebenarnya, aku sudah… Menemukan perempuan lain yang pas denganku yang bisa menuntunku menatap masa depan dan siap menatap masa depan bersamaku Jiyeon~ah. Umur kita memang hanya terpaut 2 tahun tapi susah untuk aku menata masa depan bersama kamu karena kamu masih terlalu muda untuk memikirkan semuanya Jiyeon” jelas Seulong secara terbata-bata dan Ia tau ini menghancurkan dinding Jiyeon yang ia ketahui sangat rapuh itu.

“Selamat kalau begitu Oppa. Bahagiain dia ya jangan sia-siain dia. Aku yakin dia pasti yang terbaik buat Oppa. Aku tunggu kabar bahagia secepatnya dari kalian berdua ya Oppa” ucap Jiyeon dengan tenang. Meskipun gadis itu telah mengucapkannya setenang mungkin tapi Seulong yakin bahwa gadis itu terluka, amat sangat terluka. Air mata gadis itu tak bisa lagi dibendung. Tak terasa bulir-bulir putih tersebut telah turun membasahi pipi putih gadis itu dan membuat pria disampingnya tak kuat untuk tak memeluknya dan menghapus tangisnya. Dan sekarang Jiyeon telah ada dalam rengkuhannya dan Seulong pun menghapus tangis gadis itu dengan kedua ibu jarinya. Ia tahu walaupun ia sudah menghapus bulir-bulir air matanya tetapi sakit yang dirasa hati Jiyeon tidak dapat terhapus begitu saja.

“Jangan nangis Jiyeon~ah. Kamu terlalu baik buat aku, kamu pasti dapet pengganti yang lebih baik dari aku. Kamu tetep jadi yang terbaik buat aku, You’re perfect to me. But, sorry i can’t stay with you.” jelas Seulong sambil menunduk kearah Jiyeon yang masih didalam peluknya.

Dalam pelukan Seulong yang sangat hangat, Jiyeon dapat merasakan detak jantung pria yang sudah lama ada disampingnya. Jiyeon juga dapat merasakan nafas Seulong yang berhembus dipuncak kepalanya.

“Iya Oppa. Aku bakalan usaha untuk ngelepasin Oppa dan ikhlasin Oppa kok. Lepasin Jiyeon makanya biar Jiyeon bisa ngelupain Oppa” ucap Jiyeon dengan senyum yang mengembang.

****

Sebulan sudah hubungan Jiyeon dengan Seulong kandas. Dan sebulan sudah hp gadis itu berbunyi tidak ada hentinya. Lee Min Young teman gadis manis itu juga tak kalah sibuk menerima salam-salam buatnya dari kakak kelas teman seangkatannya maupun adik kelasnya. Untuk membuat sahabatnya itu tidak bete, hari ini Jiyeon berjanji kepada Min untuk mentraktirnya di foodcourt sepulang sekolah.

Jiyeon sudah menunggu hampir setengah jam dimobilnya tetapi sahabatnya itu tidak juga muncul. Kesabaran gadis itu pun habis dan ia pun menelfon Min.

“Min~ah, dimana sih? Lama banget. Bete nih nunggu setengah jam di mobil. Apa kamu bawa mobil sendiri terus kita ketemuan disana aja? Halooo Min, ada disitu kan?”

“hm iya Jiyeon~ah. Sekarang…. sekarang Min ada di rumah sakit yeon~ah.” seperti kilat yang menyambar Jiyeon kaget mendengarnya.

“Siapa yang sakit Min? Siapa?”

“Iiii itu kamu tau kan Jinwoon sunbae anak kelas 12 ips 3 yang ketua jurnalistik itu?”

“hm iyaiya. Terus apa hubungannya sama kamu Min~ah?”

“Jadi tadi akukan lagi rapat jurnal kan sama dia dan yang lainnya terus tiba-tiba dia pingsan gitu aja karena kita semua panik langsung aja kita bawa ke rumah sakit”

“Yaudah Jiyeon samperin kesana deh”

“iya ditunggu ya Jiyeon~ah”

“ok. Tunggu Jiyeon disana, 15 menit lagi Jiyeon sampe”

“hati-hati yeon”

Setibanya di rumah sakit yang disebutkan Min tadi, Jiyeon mengambil tas yang memang biasanya ada di jok belakang mobilnya dan mengisinya dengan dompet dan tas yang berisi peralatan ceweknya yang sebelumnya ada di tas sekolahnya. Setelah itu ia bergegas mencari Min dan ia menemukannya didepan kamar rawat inap yang sudah pasti merupakan kamar rawat inap ketua jurnalistik yang Min maksud.

“Gimana dia?” tanya Jiyeon pada Min.

“Ya gitu katanya dia kena thypus gara-gara kecapean ngurus acara ulang tahun majalah sekolah kita itu. Ohiya aku nyari anak-anak yang lain dulu ya yang ada di kantin. Kamu masuk deh ya tungguin Jinwoon sunbae bentaran” tutur Min.

“ih ogah banget. Aku tunggu disini aja deh ya. Apa aku ikut kamu aja deh ya, emangnya dia siapa? Aku kan ga kenal dia” Jawab Jiyeon sambil memajukan bibirnya yang menandakan ia tidak setuju.

“Yeh temenin bentar aja kasian dia tau gaada temennya gitu sendirian didalem”

“Iyaiya. Gapake lama gapake ngerumpi dulu”

Akhirnya Jiyeon memberanikan diri untuk masuk ke dalam dan menemui kakak kelasnya itu yang terbaring lemas ditempat tidur. Ketika gadis itu memasuki kamar rawat inap yang Min maksud, Jiyeon tersentak dengan suara sesorang.

“Siapa ya?” tutur cowok itu

“Hm saya Park Jiyeon sahabatnya Min. Tadi saya kesini jemput Min tapi dianya lagi nemuin temen-temennya yang lain terus saya disuruh nunggu didalam sini” jelas Jiyeon. Muka cowok itu terlihat sangat pucat. Tetapi dengan rahang yang kuat dan perawakan yang membuat ia pantas terpampang didepan sebuah majalah fashion, ia tetap terlihat menarik meskipun dengan keadaan yang terlihat sangat lemah dan dengan raut muka yang terlihat sangat pucat.

“oh gitu. Yaudah duduk aja”

“Makasih sunbae. Sunbae sakit apa?”

“hmmm itu, biasa kecapean ngurusin ulang tahun majalah sekolah jadi gini deh”

“Jangan diforsir banget kan kasian badannya. Boleh aja sih tapi kasian badannya udah gitu kan sunbae udah kelas 12  bentar lagi ujian nasional kan”

“hehehehe iyasih. Makasih sarannya. Ohiya kita belom kenalan secara resmi nih. Jinwoon imnida dan kamu…..Jiyeon, bener kan?”

“iya” jawab Jiyeon sambil terkekeh.

“sebenernya tanpa kamu ngasih tau kamu Jiyeon aku juga udah tau kok kalo kamu itu Jiyeon, siapa coba yang ga kenal Jiyeon”

“ah Jinwoon sunbae bisa saja. Siapa juga coba yang ga kenal dengan Jinwoon Sunbae sang ketua jurnalistik yang pinternya ga ketolongan dan fansnya yang juga ga ketolongan banyaknya”

“wah yang cerita ngelebih-lebihin nih ceritanya”

“emang gitu kan sunbae”

Min yang baru masuk pun terkejut melihan keduanya sudah langsung akrab begitu saja. Padahal Jinwoon dikenal sebagai cowok yang susah untuk bertegur sapa dengan cewek yang baru dikenalnya padahal fansnya yang ngantri banyak sekali. Sama hal nya dengan Jiyeon yang belakang ini menutup diri setelah berakhirnya hubungannya dengan Seulong.

“Wah baru ditinggal bentar udah akrab aja”

“Wah Min dateng. Kalo gitu saya pamit ya Jinwoon~ssi, besok-besok saya jenguk lagi deh”

“Ok deh. Hati-hati ya Jiyeon”

“Kalo gitu Min juga pamit ya sunbae”

“iya. Makasih ya Min udah mau saya repotin”

“Biasa aja ah sunbae. Saya permisi ya sunbae”

****

Hari terus berganti tetapi kesedihan Jiyeon masih tetap ada. Sudah hampir semua cara Jiyeon coba buat melupakan kenangannya bersama Seulong. Tetapi 2 tahun tersebut tidak mudah untuk dilupakan. Jiyeon terus menerus mencoba mengubur semua kenangannya tetapi kenangan tersebut enggan untuk dikubur. 2 tahun yang sulit untuk dilupakan, 2 tahun yang penuh dengan canda, tawa, sedih, duka dan pertengkaran. Tetapi gadis itu senang dengan semuanya. Jiyeon merindukan semua yang ia lakukan bersama dengan Seulong dulu.

Sedangkan Seulong yang berpuluh-puluh km jauhnya juga sama dengan Jiyeon. Meskipun ia sudah menemukan perempuan yang menurutnya pas untuk menata masa depan yang indah tetapi kenangannya bersama Jiyeon juga enggan untuk hilang, enggan untuk dilupakan, dan enggan untuk dikubur. Semua kenangan mereka masih melayang dipikiran Jiyeon dan terlebih di pikiran Seulong sendiri.

****

Kebetulan timbul diantara Jiyeon dan Jinwoon. Mereka berdua sama-sama baru merasakan jatuh yang sangat sakit dan itu semua membuat mereka terlihat saling melengkapi satu sama lain.

Kebetulan yang benar-benar tak terduga terjadi lagi saat Jiyeon sedang menumpahkan semua kesedihannya di kelas kosong dan Jinwoon yang tidak sengaja sedang lewat didepan kelas tersebut melihat gadis itu dengan keadaan yang sebenarnya tidak ingin dilihat oleh siapapun.

“Jiyeon~ssi?” Jiyeon terkejut mendengarnya dan segera mungkin menghapus air matanya.

“eh iya sunbae. Mau pake kelas ini ya sunbae?” tanya gadis itu dengan senyum yang terkesan memaksa.

“Engga kebetulan tadi lewat terus ngeliat ada orang dikelas kosong kirain apaan tau-taunya ngeliat kamu”

“Hehehe iya sunbae. Yaudah saya pamit duluan ya sunbae” Jiyeon segera berdiri dan berpamitan agar Seulong tidak bertanya lebih lanjut tentang semuanya.

Dan ketika Jiyeon hendak berdiri dan melangkah keluar, tangannya tertahan oleh tangan kokoh sunbae nya itu. Tangan tersebut mengalirkan aliran yang dapat membuat Remi tenang dan nyaman. Dan  seketika Jiyeon menghentikan langkahnya.

“Jiyeon~ssi, kalo emang kamu butuh ruangan ini buat kamu nyendiri gapapa aku bisa keluar kok, tapi kalo kamu emang butuh temen, aku mau kok jadi temen ceritamu. Aku  tau kita emang baru deket belakangan ini”

Jiyeon terdiam mendengar penjelasan Jinwoon yang terlihat tulus dari matanya.

“saya emang butuh ruangan ini buat nyendiri sunbae, tapi saya lebih butuh temen buat cerita semuanya. Sunbae mau kan?”

“Kalo emang kamu butuh temen, aku ada setiap saat buat temen kamu cerita kok Jiyeon~ah. Aku bakalan dengerin semua keluh kesel kamu”

Jiyeon tehanyut mendengarnya. Setelah itu Jiyeon menceritakan semuanya. Tentang 2 tahunnya bersama Seulong, tentang semua kebaikan Seulong, tentang semua kenangan yang ia dapat dari seorang Seulong yang sangat sempurna menurutnya. Jinwoon pun mendengarkannya dengan sabar dan antusias melihat mata Jiyeon yang berbinar saat menceritakan kenangannya yang indah bersama Seulong 2 tahun belakangan ini. Tetapi Jinwoon  tau bahwa hati Jiyeon terluka saat itu juga. Akhirnya cerita Jiyeon berakhir ketika Seulong mengatakan ingin mengakhiri hubungan mereka.

****

Jiyeon’s Pov

Apakah terlalu susah untuk melupakan seorang Im Seulong dari pikiran ini? Apakah ia terlalu berarti buat dirimu sendiri Jiyeon~ah?

Sudah hampir 2 bulan hubungan kami kandas tetapi apa? Bayangan seorang Im Seulong itu tidak pernah hilang dari fikiranku ini. Yang terbayang-bayang selalu saja sikapnya, perlakuannya, dan senyumnya yang sempurna itu.

“AYO Jiyeon~ah. Yakin! Pasti bisa lupa.” ucapku dalam hatiku sendiri.

Kulirik jam yang berada diatas meja disamping televisi flat yang lengkap dengan peralatan home theater-nya yang tertata rapih di kamarku. Jam 12 malam. Biasanya ketika jam menunjukkan pukul 10 atau 11 malam, Seulong Oppa selalu menelfonku untuk memastikan bahwa gadisnya itu sudah tidur apa belum. Ketika aku sedang sibuk menyelesaikan tugasku yang tak kunjung selesai biasanya ia akan menemaniku sampai aku dapat menyelesaikan tugasku atau sampai aku sudah terlalu suntuk untuk menyelesaikannya.

Jiyeon~ah buat apa mengingatnya kembali. Lelaki itu sudah tidak akan kembali lagi Jiyeon~ah. Dia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan Jiyeon~ah. Lepaskan dia dan cari penggantinya. Fighting!

****

Jinwoon’s Pov

Apakah sebegitu beratnya untuk melupakan dia?  Apa arti dia dihidupku? siapa dia dihidupmu ini Jinwoon~ah? Siapa dia?

“AKH!” jeritku keras ketika mengingat kembali  saat-saat eunjung berjalan meninggalkanku.

Apakah kau terlalu berharga untuk dilupakan eunjung~ah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: