Love trip to Italy Part 4

“passport,handphone dan dompet?”

“sudah!”

“beberapa potong baju ganti?”

“sudah!”

camera dan camcorder?”

“sudah!”

“buku panduan?”

“su…eh memangnya kita butuh buku panduan? Kan ada kamu!”

“tentu saja kita butuh! Dasar bodoh!”

“cih…iya iya sudah kubawa.”

great, let’s go! Venezia ci aspetta! (Venezia menunggu kita!)

Kami berangkat ke Venezia dengan menggunakan kereta dari Milan menuju stasiun Mestre,kota terdekat Venezia yang mempunyai banyak hotel dengan rate tidak terlalu mahal. Jarak waktu dari Milan ke Mestre tidak terlalu lama,hanya memakan waktu kurang dari 3 jam. Sedangkan dari Mestre ke Venezia hanya memakan waktu 15 menit saja.

Kami menginap di Hotel Lugano, hotel bintang empat yang ratenya 100 euro per malam. Tadinya Marcus menawarkan untuk tidur sekamar agar lebih murah,toh dalam satu kamar juga ada dua tempat tidur tapi tetep saja aku GAK MAU! Siapa yang tahu kalau Marcus ternyata lelaki hidung belang dan bisa saja ia menerkamku saat aku tidur. Jadi aku menolak untuk tidur sekamar.

Kamar Marcus tepar berada didepan kamarku. Tadinya ia menawarkan apakah aku mau istirahat dulu setelah perjalanan yang lelah ke sini,tapi aku sudah terlanjur penasaran dengan Venezia! Akhirnya setelah menaruh koper,kami langsung meninggalkan hotel dan memulai jalan-jalan kami di kota Gondola ini.

Dengan bus kami menuju terminal bus utama di Venezia. Di sana kita mulai menuju Piazalle Roma kemudian membeli ticket kapal kecil untuk putar-putar selama 12 jam dengan harga 26 euro. Dari Piazalle Roma inilah kami bergerak dari satu terminal kapal satu ke terminal lainnya. Kalau suasana dan keindahan bangunan sekitar terminal bagus, maka kami turun dari kapal dan ambil gambar.

Dan…memang harus kuakui Venezia memang luar biasa indah! Aku menikmati gedung-gedung tua Venezia. Hampir semua gedung tua menimbulkan kesan tua dan rusak dimana-mana. Gedung-gedung ini memang sengaja tidak diperbaiki untuk mencegah terjadinya penurunan dan perusakan pondasi yang telah berusia ratusan tahun.

Udara dingin Venezia memaksaku untuk merapatkan jaket,padahal aku sudah memakai dua tumpuk sweater didalamnya. Marcus pun melakukan hal yang sama. Ia merapatkan syal berbulu coklat yang mengikat lehernya.

Kami berjalan kaki berdampingan mengitari Venezia sambil melihat-lihat. Tadinya aku ingin coba berkeliling menggunakan gondola,tapi aku baru tahu kalau tarifnya sangat tidak bersahabat,yaitu EUR 80! Daripada menghabiskan kocek hanya untuk naik gondola,lebih baik kami mengitari Venezia dengan berjalan kaki saja. Benar kan?

Marcus bilang Venezia terdiri dari 117 pulau,150 kanal dan 450 jembatan. Letak antarbangunan sangat rapat,seperti gang panjang. Jadi jangan heran bila tidak ditemukan mobil disini.

Marcus menggosok-gosokan tangannya “kau suka?”

“eh? Apanya?” tanyaku tidak mengerti.

“Venezia. Apa pendapatmu tentang tempat ini?”

“em…” kalau mau jujur aku suka banget! Tempat ini merupakan tempat terunik yang pernah aku datangi! Tapi gengsi dong kalau aku terlalu memuji tempat ini jadi aku menjawab “ya…lumayan. Tapi udaranya agak bau amis ya.” Kataku sambil menutup hidung dengan tangan kananku.

“wajar saja. Venezia dikelilingi oleh sungai,jadi wajar kalau sedikit bau amis.” Ia menarik tangan kananku yang tertempel dihidungku “o, tanganmu dingin sekali.” Ia langsung menggunakan kedua tangannya untuk menggosokan kedua tanganku,lalu menempelkannya dipipiku “sudah hangat kan?” katanya sambil tersenyum.

Ah,senyum itu lagi. Entah kenapa badanku selalu terasa hangat bila melihat senyumnya. Rasanya seperti…oh,kau mulai lagi Seo Hyun! Berhenti berfikir yang aneh-aneh tentangnya! “e..a…e..iya. terima kasih.” Dengan sigap aku menarik tanganku lalu menyembunyikannya di kedua kantong jaketku “aku bosan berkeliling. Apa kau tidak punya sesuatu untuk ditunjukan?”

“ada!” ia menarik tanganku dan langsung menggandengnya “ada yang ingin kutunjukan dan kau pasti menyukainya!”

“apakah ini sebuah parade?” aku mengerjapkan mataku,takjub dengan pemandangan yang ada didepan mataku “ataukah sebuah circus berjalan? Sebenarnya ini apa?”

Marcus tertawa renyah melihatku yang sedang terperangah dengan muka bodoh “ini namanya pesta topeng,atau bisa disebut juga il Carnivale, pesta topeng paling beken sedunia!”

WOW! Aku mengerjap mataku lagi. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bisa menyaksikan orang-orang berpesta menggunakan topeng dan kostum sambil mengekspresikan semua hasrat ragawi mereka.

Orang-orang berkeliaran menggunakan topeng warna-warni dan topi menyerupai burung merak bertengger diatas kepala mereka. Kostum dengan berbagai payet indah mengihiasi tubuh mereka. Benar-benar pemandangan yang tidak biasa!

“topengnya indah sekali…” kataku takjub “bisakah kita memilikinya?”

“biasanya sih ada yang jual. Ayo kita beli beberapa!” ia kembali menarik tanganku ke sebuah toko mungil yang tersembunyi dibalik keramaian,ia membuka pintu yang bertuliskan ‘open’ lalu terdengar suara krincingan bel menandakan ada tamu yang datang “vogliamo comprare una maschera, se si vende? (kami bermaksud membeli topeng,apakah anda menjualnya?)” tanyanya pada seorang ibu tua yang sedang duduk dibelakang kasir.

si! modello di ciò che si vuole (ya! Model seperti apa yang kalian inginkan?)” tanya ibu tua itu ramah “Abbiamo molti modelli è possibile scegliere il proprio (kami mempunyai banyak model kalian boleh pilih sendiri).”

Dengan sigap aku langsung mengitari toko ukuran 4×4 meter ini dengan semangat. Banyak sekali pilihannya,membuatku ingin memborong semuanya! Mataku menangkap sepasang topeng yang terpajang diatas meja kayu berukir yang berada ditengah-tengah toko, yang satu berwarna rose pink dan satu lagi berwarna sapphire blue,kaki ku melangkah mendekati topeng itu “Marcus kemarilah!” panggilku “kau harus melihat topeng ini!”

Marcus berjalan kearahku,matanya menangkap sepasang topeng ini “indah sekali…” ia meraih topeng yang berwarna sapphire blue lalu memakainya “bagaimana? Aku keren tidak?”

“bagaimana aku mau bilang keren kalau mukamu tertutup begitu!” kataku tergelak lalu memakai topeng yang berwarna rose pink dan mengamati diriku pada cermin yang tersedia “topeng ini…benar-benar cantik.”

“kita beli yuk!”

“eh?” aku menoleh kearahnya dengan kaget “beli?”

“ya! Bukankah tujuan kita kemari untuk membeli topeng?”

Oh iya! Sangking terpesonanya dengan koleksi topeng di toko ini aku jadi lupa dengan tujuan pertama kami,aku langsung menarik tangan Marcus ke kasir “tanyakan pada ibu itu berapa harga topeng ini.”

ciò che il prezzo di questa maschera (berapa harga topeng ini?” tanya Marcus.

“satunya 80 EUR!”

WHATT?!!” kami memekik berbarengan. Astaga,harga topeng ini seharga dengan tarif naik gondola! “apa tidak bisa turun?” tanya Marcus lagi.

Ibu tua itu menggeleng “tidak bisa. Topeng itu buatan handmade,dan hanya satu di dunia. Wajar saja harganya tinggi.”

“ayolah…” Marcus mulai merajuk “bagaimana kalau sepasang topeng ini,kami hargai 120 EUR?”

non può! (tidak bisa)”

“125 EUR?”

non! (tidak!)”

“130 EUR?”

non!”

“135 EUR?”

NON!

Ibu tua ini mulai kehilangan kesabaran,aku takut ia nekat melempar kami berdua dengan buku tebal yang ada di tangannya “aku bilang tidak bisa!” kata ibu tua itu lagi.

Lagi-lagi Marcus merajuk dengan menggunakan bahasa italia yang tidak aku mengerti “si accende! eravamo appena sposati il mese scorso e il viaggio di nozze è stato a Venezia. vogliamo comprare merce che sarà memorabile per entrambi. (ayolah. kami baru menikah bulan lalu dan sedang bulan madu di venezia. kami ingin membeli barang yang akan menjadi kenangan untuk kami berdua).” Tiba-tiba ia merangkul bahuku dengan sok mesra lalu kembali memohon “può essere sì? (boleh ya?.)”

Ibu tua itu menatap kami dengan kedua bola mata hijaunya dengan penuh selidik. Ekor matanya bagai elang yang sanggup menelan kelinci kecil hidup-hidup. Pandangan matanya berhenti padaku, “se questo uomo di tuo marito? (apakah pria ini suami anda?)”

ne?” aku mengerling tidak mengerti,lalu menoleh kearah Marcus,memintanya menerjemahkan apa yang ibu tua ucapkan tadi melalui mataku. Tapi Marcus malah mengangguk-anggukan kepalanya. Sebenarnya apa maksudnya?

se questo uomo di tuo marito?” ibu tua itu bertanya lagi. Kali ini dengan nada yang lebih tinggi.

Astaga! Aku harus jawab apa?! Lagi-lagi aku meminta jawaban pada Marcus melalui mataku tapi ia tetap mengangguk-anggukan kepalanya seperti burung yang sedang mematuk ranting pohon. Tunggu. Apakah maksudnya adalah….ya?

perdere! (nona)” ibu tua itu kembali bicara “se questo uomo di tuo marito? (apakah pria ini suami anda?)

“ne! Em… i mean , si! Si! (benar, benar!)”. kataku tergagap.

Ibu tua itu memutar bola matanya dengan kesal,lalu menoleh ke arah Marcus “140 EUR,take it or leave it!”

take it!”

Dengan senyum jenaka yang terlukis diwajahnya ia menyerahkan beberapa lembar uang dan langsung keluar dari toko dengan nafas terengah “bisa mati aku kalau lebih lama menatap mata ibu tua yang menyeramkan itu.” Kata Marcus.

“hey,sebenarnya apa yang tadi kau katakan pada ibu tua itu?” tanyaku penasaran.

“eh?” ia mengelap keningnya yang berkeringat lalu menatapku “kau ingin tau?”

Aku mengannguk.

“aku bilang ‘bu,tolong turunkan harga topeng itu ya. Adik kecil ku ini sangat menginginkan topeng ini’ begitu.”

“lalu apa yang ibu tua tanyakan padaku?”

“ia bertanya ‘apakah pria ini kakakmu’’

“oh..begitu…” aku mengangguk-angguk mengerti,tidak sadar bahwa Marcus sedang menahan tawanya.

Setelah memakai topeng kami dengan hati-hati,Marcus langsung menggamit tanganku “ayo kita jalan-jalan lagi!”

Orang-orang menoleh kearah kami,dan mulai memperhatikan topeng yang sedang kami kenakan. Hahaha benarkan,topeng ini sangat indah! Tiba-tiba segerombol gadis datang dari arah berlawanan lalu langsung mencegat kami “bisakah kami bertanya kepada kalian?” tanya salah satu gadis menggunakan bahasa inggris.

“ya..em…kalian siapa?” tanya Marcus.

“kami…kami sangat suka dengan topeng yang kalian kenakan! Bisakah kami berfoto bersama kalian?”

WOW! Belum sehari penuh aku di Venezia sekarang aku sudah merasa menjadi artis dadakan,gadis-gadis itu membuat barisan dengan aku dan Marcus yang berada di tengahnya lalu kami befoto beberapa kali.

Setelah puas mereka mengucapkan terimakasih kepada kami dan kembali melanjutkan perjalanan mereka,tapi ada satu gadis yang masih tetap berada di tempatnya dan tidak mengikuti teman segerombolannya pergi,gadis itu malah berjalan ke samping Marcus “bolehkah aku foto berdua denganmu?”

Mataku membulat. Berani-beraninya gadis ini mengajak Marcus foto berdua! Aku saja tidak pernah foto berdua dengannya!

Marcus tersenyum kepada gadis itu “boleh saja.”

APAAAA?!!

“hey kau.” Gadis itu memberikan kamera SLR nya padaku “tolong foto kami berdua ya.”

Tanpa mempedulikan ekspresi mukaku yang tak senang, (eh lupa, Aku kan lagi pake topeng jadi wajar ia tidak bisa melihat ekspresiku ah tapi bodo amat lah!), gadis itu langsung berpose disamping Marcus,jadi mau gak-mau aku memotret mereka berdua. Gadis itu bahkan mengganti pose hampir 7 kali. ME-NYE-BAL-KAN!

“terimakasih.” Katanya kepada Marcus. Hey,seharusnya ia berterimakasih padaku karna aku yang memotretnya! Tiba-tiba ia membuka topeng Marcus lalu dengan beraninya mendaratkan ciuman di pipi kirinya “kau tampan,persis seperti apa yang kubayangkan.”

APAA?! Dasar gadis yang tidak pernah diberi pelajaran! Berani-beraninya dia!

Marcus terkejut,tapi hanya sebentar. Tangan kananku terkepal erat di samping paha,sudah siap untuk menampar gadis lancang itu tapi tiba-tiba Marcus berjalan kearahku lalu merangkul pinggangku seraya berkata “terimakasih,tapi aku sudah memilikinya.”

Aku terkejut.

Gadis itu terkejut.

 “oh…” gadis itu mengangguk pelan,tapi aku bisa melihat ekspresi tidak suka pada matanya “kalau begitu…sampai jumpa! Aku harap kita bertemu lagi.” Ia langsung merebut kameranya dari tanganku lalu langsung berlari menyusul rombongannya. (bahkan ia tidak berterimakasih padaku! Dasar gadis yang tidak tahu sopan-santun!)

“apa yang kau bicarakan!” dengan sigap aku melepaskan tangannya yang melingkari pinggangku “sejak kapan aku jadi milikmu?”

Ia mengangkat bahu “hey itukan Cuma bercanda. kalau aku tidak bilang begitu,mungkin sepanjang hari gadis itu bermaksud untuk mengikuti kita!”

“iya sih tapi….”

Aku mau membantah tapi ia menaruh telunjuknya pada bibirku “ssstt! Jangan banyak protes! Ayo kita lanjut jalan-jalan!”

Aku menyingkirkan tangannya “jalan-jalan mulu! Aku lapar tau!”

“ah!” ia menjentikan jarinya “kau benar,kita belum makan apa-apa sejak sampai kesini,aku akan membelikan makanan untukmu,kau tunggu disini saja ya.” Ia berjalan menjauh lalu tiba-tiba menoleh lagi kearahku “ingat,jangan bicara dengan orang asing!”

Cih,dia kira aku anak tk apa? Aku tidak membalas omongannya dan langsung duduk disebuah kursi panjang yang menghadap kanal. Mood-ku hancur karna insiden gadis genit tadi. Eh,tunggu. Kenapa harus hancur? Ya, Seo Joo Hyun! Sebenarnya apa yang terjadi denganmu?!

Aku mengacak-acak rambutku frustasi,sehingga tidak menyadari kalau ada seorang pria  yang duduk disampingku. Pria itu mengamatiku dari ujung rambut sampai ujung kaki lalu tersenyum “perdere ,quello che stai da solo? (nona, apa kau sendirian?)”

Aku mengangkat kepalaku dan menatap pria ini dengan penuh selidik. Pria ini sebenarnya cukup tampan. Kulitnya coklat eksotis,dan matanya sebiru lautan. Yang sangat disayangkan adalah kenapa hidungnya sedikit bengkok seperti habis di tonjok orang ya?

sorry, please speak in english.” Kataku sambil tersenyum.

“eh?oh..em…nona apa kau sendirian?” tanya pria itu lagi.

“ah tidak aku kesini bersama…bersama…pacarku.” ASTAGA, apa yang baru kau ucapkan Seo Joo Hyun?!!

“ah begitu.” Pria itu kelihatan sedikit kecewa “ah by the way,namaku Lotso. Kau?”

Aku hampir menyemburkan tawaku begitu mendengar namanya. Lotso? Seperti nama boneka beruang berwarna ungu yang jahat yang ada di film Toys Story 3. “namaku Seohyun.”

“kau dari Cina?”

“tidak, aku dari Korea.” Yeah,lagi-lagi ada orang yang mengira aku berasal dari Cina.

“ah begitu.” Lotso mengangguk-angguk “kau suka Venezia?”

“ya…lumayan.” jawabku malas. “memangnya kenapa?”

Lotso kelihatan seperti ingin tertawa “kau tahu,kau belum melihat Venezia yang sesungguhnya.”

Aku mendelik “apa maksudmu?”

“yah…apa yang kau lihat sekarang bukan Venezia yang sesungguhnya. Siapa yang membawamu kesini? Pacarmu?”

Aku mengangguk.

“kalau begitu pacarmu pasti bukan berasal dari sini! Dia tidak tahu apa-apa tentang Venezia!”

Aku agak kesal dengan omongan Lotso. Kesannya sok tau sekali. “memang kau sendiri tau apa tentang Venezia?”

“tentu aku tahu! Aku lahir disini!” jawabnya bangga “kau mau kutunjukan sesuatu?”

“sesuatu?” tanyaku sambil mengerutkan alis.

“tempat yang sangat romantis.”

“romantisss?!” aku langsung bersemangat “dimanaaa?”

“akan kutunjukan padamu.” Ia berdiri seraya menarik tanganku “ayo,ikut aku.”

Mata birunya seakan menghipnotisku,sehingga aku tidak punya pilihan lain selain mengangguk.

Marcus ‘s POV.

Aku kembali dengan membawa dua potong pizza ditanganku,ketika aku menyadari bahwa Seo Hyun sudah tidak ada ditempat dimana aku menyuruhnya untuk menunggu. Astaga,kemana lagi gadis merepotkan itu?

aku langsung berlari kesana kemari dan tetap tidak melihat batang hidungnya. Aku mencari ke kanal,dia tidak ada. Ke dalam toko topeng tadi juga tidak ada. Aku bahkan mengintip ke dalam toilet wanita,tapi dia juga tidak ada disana.

Brengsek,aku mulai khawatir. Aku menghentakan kakiku dan kembali ke tempat terakhir aku meninggakannya berharap ia ada disana tapi tidak ada. Sial,pergi kemana gadis itu?

“hey.” Aku merasa ada yang menepuk punggungku,aku pun menoleh dan mendapati seorang nenek sedang memandangku dengan tampang khawatir “apa kau sedang mencari kekasihmu?” tanyanya dengan bahasa inggris.

Apa yang ia maksud kekasih adalah Seohyun? Aku mengangguk kecil. “ya,apakah nenek tau dia dimana? Ia mengenakan topeng berwarna rose pink,apa nenek sempat melihatnya?”

Nenek itu mengangguk “aku lihat gadis itu dibawa pergi oleh pria yang mencurigakan.” Tiba-tiba ia mencengkram tanganku “cepat cari dia nak! Jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan pada kekasihmu!”

Aku merasa nenek ini agak berlebihan tapi sepertinya ada benarnya juga. Setelah mengucapkan terimakasih pada nenek tadi aku langsung berlari mencari Seo Hyun lagi. Kali ini aku mencari di sela-sela gang yang terhimpit diantara perumahan.

Aku terus berlari sampai aku mendengar ada suara teriakan “tolong!”

Tunggu. Teriakan itu diucapkan dengan bahasa korea. Jangan-jangan…. aku langsung mempercepat lariku lalu langsung masuk kedalam sebuah gang yang terhimpit diantara gedung kumuh. Mataku membelalak saat melihat Seohyun sedang berusaha menghindari ciuman yang hendak ia dapatkan dari seorang pria mencurigakan.

Tanpa pikir dua kali aku langsung mendorong pria itu sampai terjungkal. Amarahku memuncak,tanpa sadar aku membanting pizza yang sedari tadi kubawa ketanah dan langsung menonjok pria itu dengam membabi-buta.

BUK! BUK! BUK!

Pria itu berhasil menghindar dari salah satu pukulanku dan hendak menonjok mukaku tapi dengan sigap aku menghindar,lalu menendang kaki pria itu.

Ia oleng dan hendak jatuh kebelakang,dan dengan gesit aku langsung menonjok hidung mancungnya yang agak bengkok itu sampai patah.

“AAARGHHH!!” pria itu terjungkal kebelakang dan meringis kesakitan,aku hendak memukulnya lagi sampai kudengar suara isakan yang tertahan.

Aku menoleh dan mendapati Seohyun sedang terduduk lemas ketakutan,berusaha menutupi tubuhnya yang terbuka karna pakaiannya sempat dirobek oleh pria tadi. Dengan cekatan aku membuka jaketku dan langsung menutupi tubuhnya “tunggu sebentar. Akan kuselesaikan ini.” Kataku mencoba menenangkannya.

Aku mengambil pizzaku yang tadi terjatuh ketanah dan langsung berjalan mendekati pria itu,kutarik kerahnya dan langsung melempar pizza ku pada wajah nya seraya berteriak “EAT THIS!!”

Aku langsung berlari kearah Seohyun yang masih gemetar,kupapah dirinya sampai berdiri. Tak lupa aku menoleh ke pria brengsek itu lalu menyumpahinya sambil berkata “NON TOCCARE LA MIA RAGAZZA, CAGNA! (jangan sentuh gadisku, jalang!)”

Seohyun’s POV.

“hiks…hiks…” aku terus menangis dipelukan Marcus.

Dasar Lotso brengsek! Tiba-tiba ia menyeretku ke dalam gang sempit dan menjatuhkan tubuhku ke tanah. Ia langsung merobek pakaian ku dan hendak mendaratkan ciumannya di bibirku! Dengan cepat aku menghindar sehingga ciuman itu meleset dan mengenai telingaku.

Aku mencoba berdiri tapi ia menahan bahuku. Aku berteriak minta tolong tapi tidak ada orang yang datang. Sedetik kemudian aku baru sadar kalau aku berteriak tolong menggunakan bahasa korea. Tiba-tiba tubuh Lotso yang tadi menindihku sudah terjungkal kebelakang. Aku langsung bangkit dan menutupi badanku dengan kedua tangan.

Mataku mengerjap saat melihat sosok Marcus menghajar Lotso dengan membabi buta. Ia mematahkan hidung Lotso yang sudah bengkok menjadi tambah bengkok,lalu mengambil pizza yang ada ditanah dan melemparkannya tepat di wajah Lotso. Lalu Marcus memapahku berdiri,dan berniat langsung pergi dari gang ini. Tapi tiba-tiba ia memutar tubuhnya dan menyumpahi Lotso dengan bahasa italia yang tidak kumengerti.

“bagaimana kau bisa bersama pria itu?” Marcus bertanya di sela-sela tangisanku “aku sudah bilang jangan bicara dengan orang asingkan!”

“kau sendiri bicara dengan gadis yang tidak kau kenal,bahkan kau berfoto berdua dengannya!” balasku dengan nada tinggi.

“tapi kau hampir menjadi korban perkosaan,kau mengerti itu Seo Joo Hyun?” ia balas membentakku.

Aku ingin membalas perkataannya  dengan bentakan lagi tapi sepertinya bukan itu yang seharusnya aku ucapkan pada orang yang sudah menolongku. aku menatap matanya dengan mataku yang masih sembab lalu berkata pelan “terima kasih…”

Marcus menatapku sebentar lalu menghela nafas berat. “apa yang sebenarnya pria itu katakan sampai kau mau ikut dengannya?”

“dia bilang dia akan menunjukan Venezia yang sesungguhnya. Dia bilang dia akan membawa ku ke tempat yang romantis.”

“apa tempat ini kurang romantis?” tanya Marcus lagi.

“tapi ia bilang akan membawaku ke tempat yang jauh lebih romantis karna itu aku mau ikut dengannya!” aku kembali menangis.

Marcus mempererat pelukannya “aku akan membawamu ke tempat romantis. Tapi kau harus janji jangan pernah menghilang lagi. Jangan pernah membuatku hampir mati karna khawatir,kau mengerti?”

Aku mengangguk pelan.

“bagus.” Ia melonggarkan pelukannya lalu menarikku untuk bangkit “aku akan menunjukan tempat romantis yang asli.”

“dimana itu?” tanyaku.

“di pulau Lido!” katanya bersemangat “memang hanya pulau biasa tapi kita bisa berjalan-jalan dipantainya,kau mau kesana?”

Aku mengangguk lagi. “dengan apa kita kesana?”

“sepertinya kita terpaksa menggunakan gondola.”

Ia menarik tanganku untuk bangkit,lalu berjalan kearah kanal yang dipenuhi Gondolieri (pengayuh gondola). Karna sudah sore,banyak orang yang berebut menaiki gondola. Kami hampir kewalahan mencari gondola yang kosong sampai mata kami menemukan seorang Gondolieri yang sedang duduk diatas gondolanya sambil membaca buku.

scusi.” Sapa Marcus “bisa antarkan kami ke Pulau Lido?”

OH MY GOD!” tiba-tiba Gondolieri itu terlonjak kaget,seperti habis melihat hantu. Ia menjatuhkan buku bersampul hitam yang sedang ia baca. Sepertinya ia sedang membaca buku misteri.

“bisa antarkan kamu ke Pulau Lido?” tanya Marcus lagi.

“eh?”

“pulau Lido!”

“eh?”

“PULAU LIDO! L-I-D-O!” ucap Marcus setengah kesal dengan Gondolieri bertampang blo’on ini.

eh,si si. (ya,ya).” Ia menyuruh kami duduk diatas gondolanya “akan saya antarkan.”

Aneh. Kupikir Gondolieri ini akan bernyanyi sambil mengendarai gondola ini tapi ia malah mengendarainya dengan tampang pucat. Membuat perasaanku jadi tidak enak. “sudah sampai.” Kata Gondolieri-bertampang-blo’on-itu.

Kami melompat turun dari gondola,dan langsung memandang pulau Lido dengan alis mengkerut. Apanya yang romantis? Gedung runtuh,bau amis dan tidak ada aliran listrik. Apanya yang romantis dari pulau ini?

“ini kan bukan Pulau Lido…” gumam Marcus. Tiba-tiba ia memutar tubuhnya dan mendapati Gondolieri-bertampang-blo’on itu sudah mengendarai gondolanya menjauhi pulau Lido “hey! Tunggu!!! “ teriak Marcus.

“hey sebenarnya apa yang sedang terjadi?” tanyaku tidak mengerti.

“Gondolieri itu salah mengantar! Aku ingat sekali kalau pulau Lido bukan pulau kumuh seperti ini!”

“lalu ini pulau apa?”

“berikan buku panduanmu!”

Dengan sigap aku memberikan buku panduanku yang sedari tersimpan dengan manis di dalam tasku. Marcus membukanya dengan kasar lalu berhenti pada salah satu halaman. Ia menatap pulau ini,lalu membaca halaman pada buku panduan. Menatap pulau lagi,lalu membaca lagi. Begitu terus.

“hey sebenarnya apa yang terjadi?!” tanyaku tidak sabaran.

“Gondolieri itu…salah mengantar.” Katanya “ia bukannya mengantarkan kita ke pulau Lido tapi…ia malah mengantarkan kita ke pulau…. Poveglia.”

“oh…kalau begitu mudah. Kita minta tolong saja pada warga disini untuk mengantarkan kita kembali.” Jawabku santai.

“tidak bisa!” kata Marcus tiba-tiba “pulau Poveglia…adalah pulau yang tidak berpenghuni.”

SIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINGGGGGGGGGGGGGGGGGG.

“ba-bagaimana mungkin…” kataku tergagap “memangnya pulau Poveglia itu pulau seperti apa?”

“pulau Poveglia adalah pulau yang tidak berpenghuni,atau bisa disebut juga…” ia menatapku dengan tampang horor “ pulau arwah.”

-TBC-

Advertisements

8 Comments (+add yours?)

  1. Ninischh
    May 13, 2012 @ 08:26:36

    update soon? kekeke =D

    Reply

  2. yoorinmatsu
    May 13, 2012 @ 08:47:02

    eh yang ini udah aku baca. lanjutannya mana? post cepetan ya ceritanya seruuuu^^

    Reply

  3. seokyuandata
    May 13, 2012 @ 18:04:41

    nunggu kelanjutannya bangettt
    super diper penasaran
    apa yg bakal terjadi sma seokyu

    Reply

  4. hyunraseokyu
    May 14, 2012 @ 08:03:29

    Huuftt… Untung kyu selamatin seo…
    Seokyu kykmana tuh,smpe di pulau tk berpenghuni….
    Nice ff! Tmbh Daebak!
    Ditunggu klnjutannya…

    Reply

  5. ChaLy
    May 14, 2012 @ 14:16:03

    Wah wah,,
    Buruan lanjutinn
    Penasaran nihhh

    Mereka tersesat ke pulau arwah,, wkwkwk~~
    Tp sayangnya, aku baca ini malem malemm,, ><
    Jadi sempet merinding wkt baca 'pulau arwah'

    Update soon,, like this ff (y) ^_^

    Reply

  6. susan siwonest sparkyu elf
    May 15, 2012 @ 05:22:21

    tlng lnjutin ff ny donk pngen bgt bc kelanjutan ny..

    Reply

  7. apriany
    May 15, 2012 @ 08:40:05

    ah ternyata part 4 udah aku baca.. aku menunggu part 5 🙂
    di part 4 banyak kata kata marcus yang seohyun gak tau tapi sumpah bikin aku senyam senyum sendiri ^^,
    update soon ya author

    Reply

  8. kim hyora
    Aug 16, 2012 @ 14:29:29

    maana nih part terbarunyaaaa? aku udah nunggu lama banget~ sebeumnya udah komen d smtown~

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: