Packet? Part 3

TITTLE: PACKET? PART 3 (END)

CAST: SEO JOO HYUN

OH SEHUN

JUNG SOO JUNG

AUTHOR: AAL (@pokaihontas)

GENRE: ROMANCE

LENGTH: CHAPTER

NOTES: Part ini terinspirasi dari cerpen karya Dee yang berjudul Hanya Isyarat. Dan lebih bagus lagi kalau kalian membaca part ini sambil mendengarkan lagi Hanya Isyarat –  Dewi lestari ^^.

 

~PACKET~

 

Seohyun merebahkan tubuhnya pada kasur ukuran queen size yang ada di kamarnya. Kedua matanya menghadap langit-langit kamar yang putih bersih tertutup rapat. Keningnya berkerat-kerut seakan menunjukan bahwa pemiliknya sedang berfikir keras. Satu tangan milik wanita itu terangkat lalu memijit pelipisnya.

Sudah dua minggu berlalu semenjak kejadian sang postman yang mendatangi rumahnya, dan sudah dua minggu pula sang postman tak henti-hentinya berdiri di depan pintu rumahnya.

Seohyun tidak tahu apa sebenarnya yang diinginkan oleh postman itu. Sepertinya ia penasaran. Atau mungkin tertarik padanya. Tapi, persetan dengan itu semua karena Seohyun tidak peduli.

Sebenarnya, jika boleh jujur, Seohyun juga merasa tertarik dengan postman itu. Kedua matanya yang cokelat dan kulit putihnya mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang hidup dalam masa lalunya dan tidak akan pernah menjadi masa depannya. Sekeras apapun wanita itu mencoba.

Seohyun tidak mungkin melupakan orang itu. Bila orang itu sudah melupakannya pun, itu tidak masalah baginya. Malah ia senang. Tidak perlu ada hubungan dalam antara Seohyun dan orang itu, karena wanita itu sedari awal memang memutuskan melepaskan segalanya dan tidak akan bergerak maju untuk mengejarnya. Mengejar orang itu.

Ia akui, sang postman memang membuatnya terpesona. Wajahnya bagaikan jelmaan malaikat di tengah hidupnya yang kelewat monoton. Tapi, memangnya wanita itu bisa apa? Sang postmanbukan siapa-siapanya dan tidak akan pernah menjadi siapa-siapanya. Ditambah lagi umur sangpostman yang berbeda jauh darinya. Mana mungkin ia menjalin hubungan dengan anak kecil seperti itu.

Seohyun menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Ia harus segera menyelesaikan urusannya dengan sang postman. Sebelum mereka berdua terseret dalam permainan hati yang hanya akan mengakibatkan luka bagi keduanya.

~PACKET~

Sehun menatap meja kerjanya yang berantakan dengan tatapan kosong. Ia tidak menggubris omelan atasannya yang mengatakan bahwa sedari tadi ia tidak serius bekerja. Persetan dengan pekerjaan. Sekarang Sehun sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih penting dari pada itu.

Jika dihitung-hitung, sudah dua minggu ia selalu pergi ke rumah putih itu. Berharap wanita cantik yang tinggal di dalamnya membukakan pintu untuknya dan menjelaskan mengapa saat pemuda itu pertama kali bertatap muka dengannya, wanita itu malah menangis.

Sebenarnya itu sendiri bukan urusan Sehun. Ia bisa saja berpura-pura kejadian itu tidak pernah terjadi dan pemuda itu bisa dengan bebas melanjutkan kehidupannya.

Tapi….ia tidak bisa. Ada sesuatu yang menarik hatinya. Mengatakan bahwa ia harus mencari tahu mengapa. Mengapa wanita itu menangis. Mengapa wanita itu selalu mengirimkan paket-paket aneh. Mengapa…. Wanita itu terlihat sangat kesepian.

“DOR!” Seseorang mengagerkannya dari belakang. Tapi tanpa menolehpun, Sehun sudah tahu siapa, “Kenapa sedari tadi kau melamun seperti itu Sehun-ah? Nanti kesambet Setan loh.”

Sehun memutar kedua bola matanya, “Iya, dan setannya adalah kau.”

Soo Jung mengerucutkan bibirnya. “Aku kan nanya nya baik-baik kenapa kau menjawabnya seperti itu?”

“Aku sedang tidak mood tahu.”

“Memangnya aku peduli?” Sekarang giliran Soo Jung yang memutar kedua bola matanya. Ia dudukan tubuhnya pada kursi di belakang meja kerjanya lalu mengeluarkan sebuah buku, “Daripada aku bicara denganmu lebih baik aku membaca saja.”

“Siapa juga yang ingin bicara denganmu?” Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir. Terkadang mental rekan kerjanya ini bisa menjadi terlalu percaya diri.

Pemuda itu menoleh ke meja kerja Soo Jung yang rapih lalu kedua matanya membelalak. Bukan. Bukan karena meja kerja itu kelewat rapih, melainkan karena sebuah buku yang sedang tergeletak disana mencuri perhatiannya sepenuhnya.

“He-Hei apa yang ingin kau lakukan dengan buku ku, Sehun-ah?” Soo Jung berusaha merebut kembali bukunya namun pemuda itu malah menghindar.

“Sebentar saja. Aku hanya ingin lihat.” Sehun duduk diatas kursinya lalu menatap buku yang ada ditangannya lekat-lekat. Buku dengan sampul berwarna gelap dan….taburan bintang-bintang sebagai hiasannya.

Tak salah lagi. Motif bintang ini persis dengan paket yang selalu dikirimkan oleh wanita itu. Tentu saja ia tahu, karena selalu dirinya yang mengantarkan paket sialan itu.

Ia membuka halaman pertamanya, dan disitulah terpampang sebuah nama yang terukir disana.

“Starla?” Sehun memiringkan kepalanya, “Siapa itu, Starla?”

“Nama penulisnya bodoh.” Soo Jung merebut kembali bukunya, “Starla itu nama penulisnya.Star, diambil dari kata bintang. Karena itulah semua sampul bukunya bermotif bintang, agar sesuai dengan namanya.”

“Berarti Starla itu….nama pena?”

“Yah….mungkin.” Soo Jung menatap bukunya, “Tidak ada yang tahu tentang si Starla ini. Ia tidak pernah menggelar acara tanda tangan buku ataupun jumpa penulis. Jadi tidak ada yang pernah melihat wajahnya.”

Aku pernah. Dan ia sangat cantik. Secantik nama penanya.

“Hei Soo Jung-ah.” Sehun melemparkan senyum manisnya, “Aku…..pinjam buku itu sebentar ya?”

“Hah? Buat apa?”

“Ayolah… sehari saja. Besok aku kembalikan. Janji.”

“Kalau aku tidak mau, bagaimana?”

“Maka aku akan menciummu.”

Soo Jung merasakan bahwa kedua pipinya menghangat dan jantungnya tertinggal satu detakkan, “H-Hah… Apa-Apaan……”

Melihat kondisi Soo Jung yang sedang shock, Sehun menggunakan kesempatan itu untuk merebut bukunya lalu berlari cepat, “Aku pinjam sebentar ya rekan kerjaku yang manis.”

“L-l-lohh jangan seenaknya begitu dong Oh Sehun!!!!”

~PACKET~

Sehun menutup buku bersampul bintang itu. Pandangannya menerawang. Jiwanya seakan kosong dan nafasnya seperti tercekat.

Ia tidak sedang membaca karya shakespeer kan? Ataukah, Starla adalah jelmaan shakespeer di abad 21?

Sehun mengamati judul buku ini. Bintang jatuh. Dan seperti itulah perasaan wanita yang menjadi tokoh utama dalam buku ini.

Ia tidak tahu apakah buku ini non-fiksi atau pun fiksi. (Pemuda itu tidak tahu dimana letak perbedaannya) namun ia dapat merasakan bahwa karakter yang diciptakan seperti hidup. Jalan ceritanya yang sederhana terkesan realistis. Jadi, Sehun menyimpulkan bahwa….mungkin saja….. Kisah yang ada dalam buku ini merupakan kisah cinta Starla.

Buku ini bercerita tentang seorang wanita yang mencintai satu laki-laki. Wanita itu tidak pernah menatap wajah sang lelaki dengan jelas karena lelaki itu selalu memunggunginya. Jadilah, wanita itu hanya sanggup mengamati punggungnya. Mencintai punggungnya. Mengisyaratkan cinta kasihnya pada lelaki itu melalui punggung.

Pernah suatu kali, lelaki itu menolehkan wajahnya. Tapi wanita itu malah menangis. Ia tak sanggup menatap kedua bola mata milik lelaki itu. Karena wanita itu tahu, bahwa ia tidak akan pernah bisa memiliki lelaki itu. Ia tak ingin berharap. Ia tak ingin mencintai lelaki itu lebih dalam.

Starla menceritakan bahwa cinta wanita dalam karakternya  kepada sang lelaki seperti bintang jatuh. Lelaki itu bagaikan bintang yang lepas dari genggaman sang langit, dan jatuh meluruh sebelum kedua tangan wanita itu sanggup meraih. Wanita itu tidak mau mencintai bintang jatuh. Mencintai sesuatu yang tidak akan pernah menjadi miliknya. Karena itu, ia lebih memilih memandanginya hanya sebatas punggung. menurutnya, selama ia bisa memandangi punggung lelaki itu dan melihatnya bahagia meskipun bersama dengan wanita lain, itu sudah lebih dari cukup.

Starla, Sehun menggumamkan nama itu dalam hati, Apakah…..kau adalah bintang jatuh bagiku?

 

~PACKET~

 

Seohyun menuangkan susu pada semangkuk oatmeal yang telah ia taburi buah-buahan sebelumnya. Setelah dirasa pas ia membawa mangkuk itu ke depan laptop dan mulai melahapnya. Wanita itu harus makan dengan cepat sehingga ia bisa mulai bekerja dan merampungkan ceritanya.

Kunyahannya berhenti saat ia tiba-tiba teringat sesuatu. Sudah tiga hari sang postman tidak mengunjungi rumahnya. Ada apa ya?

Yah, tapi baguslah. Jadi Seohyun tidak usah repot-repot mengusirnya. Ia sudah bilangkan bahwa ia akan melakukan sesuatu untuk tidak membuat mereka berdua jatuh ke dalam jurang bernama cinta? Jika sang postman duluan yang mundur, maka itu menjadi sebuah keuntungan bagi wanita itu.

Bila sang postman bukanlah bintang jatuh, apa kau akan mengejarnya?

Suara hatinya lagi-lagi bicara. Seohyun normal biasanya akan langsung menggelengkan kepalanya keras-keras agar suara itu pergi namun, sekarang ia memutuskan untuk mendengarkan suara itu sampai selesai.

Sang postman bukan lelaki itu. ia bukan bintang jatuh. Kenapa kau tidak memperjuangkannya?

Seohyun mengerti arti kata itu. perjuangan. Ia bisa saja memperjuangkan lelaki muda nan tampan itu tapi….

Kau takut?

“Tidak.”

Lalu?

“Sang postman…..ia masih muda. Aku memang bisa saja memperjuangkannya. Mengejarnya. Memilikinya lebih dari sekedar memandangi punggungnya. Namun aku yakin, ia bisa mendapatkan yang lebih baik daripada aku. Lebih cantik. Lebih muda. Lebih mencintainya. Dan sang postman pasti bisa menemukannya.”

Tin tinnnn!!!~

Seohyun hampir tersedak oatmeal saat suara motor klakson tiba-tiba terdengar di depan rumahnya . Ia mengambil serbet lalu menghapus jejak-jejak susu yang tercecer di sekitar mulutnya. Wanita itu berdiri lalu berjalan kearah jendela untuk mengetahui siapa yang datang.

Postman?”

Sang postman tidak menggunakan helm seperti biasa. Jadi Seohyun bisa melihat wajah itu dengan jelas dan entah mengapa…wanita itu seperti ingin menangis. rasa sakit di masa lalu yang sudah ia pendam rapat-rapat perlahan terbuka. Menganga. Seperti siap untuk menjatuhkan tubuhnya ke jurang bernama……Seohyun tidak ingin menyebutkan kata itu.

Sang Postman turun dari motornya lalu mengeluarkan sebuah paket. Seohyun mengerutkan kedua alisnya. Seingatnya, bulan ini ia tidak mengirim paket apapun. Jadi, paket itu dari siapa?

Sang postman memasukan paket yang ada ditangannya ke dalam kotak pos. ia lalu mendongakan kepalanya kearah jendela. Menatap Seohyun dan tersenyum manis. Seohyun bersumpah itu adalah senyum termanis yang pernah ia lihat.

Sang postman mengangkat satu tangannya lalu melambaikan tangan. Seperti salam perpisahan. Seperti mengatakan bahwa ini adalah kali terakhir ia mengantarkan paket untuknya. Seperti memberitahu bahwa ini adalah terakhir kali mereka bertemu.

Kejar dia Seo Joo Hyun!

“tidak.”

Cepat atau kau akan menyesal seumur hidup!

“Kubilang Tidak!”

Starla.

Seohyun tersentak saat hatinya menyebut kata itu.

Kejar dia Starla. Kejar.

Seperti disambar petir Seohyun langsung melangkahkan kedua kakinya lalu berlari sekuat tenaga. Ia turuni tangga secepat kilat dan membuka pintu utama rumahnya yang digembok tiga. Ahh, kenapa disaat genting seperti ini ia jadi lupa pasangan kuncinya ya?

Setelah pintu terbuka Seohyun langsung berlari keluar. Ia bahkan tidak menggunakan alas kaki. Ada yang lebih penting dari sekedar sandal. Seohyun harus mengatakan sesuatu.

POSTMAN!”

Sang postman yang tadi ingin menaiki motornya kontan membeku. Kenapa wanita ini tiba-tiba keluar dari goa persembunyiannya?

Postman, aku…….” Seohyun menggigit bibir bawahnya, “Aku ingin bilang kalau aku……”

“Starla.”

Seohyun mengunci bibirnya, “Y-ya?”

“Starla, aku….” Sang postman mengelus tengkuknya, “Ada yang ingin kukatakan padamu.”

“A-Apa?”

Postman meneguk salivanya. Berhadapan langsung dengan wanita misterius ini membuat ketegangannya meningkat dua kali lipat, “Jangan takut jatuh cinta.”

“Heh?”

“Jangan takut jatuh cinta.” Postman menarik kedua ujung bibirnya, “Sesungguhnya…jatuh cinta itu bukan sesuatu yang buruk, kau tahu?”

“Kau…..”

“Aku tahu aku ini memang anak kecil.” Postman tertawa kecil. tawa yang lebih terdengar lirih daripada bahagia, “Tapi aku hanya ingin mengatakan, jangan mau menjadi bintang jatuh.”

“Darimana kau…..”

“Mencintai, ataupun menjadi bintang jatuh. Jangan mau menjadi keduanya.” Postmantersenyum lagi, “Kau lebih dari sekedar itu.”

Sang postman mengelus puncak kepalanya lalu berbalik untuk menaiki motor kesayangannya. Ia melempar pandangan pada Seohyun lalu mulai menyalakan mesin.

Postman.”

“Ya?”

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Semuanya.”

Postman mengerjapkan kedua matanya bingung, namun tak urung ia menarik kedua ujung bibirnya untuk kembali tersenyum, “Sama-sama, Starla.” Ia lalu menjalankan motornya. Meninggalkan Seohyun yang masih berdiri tanpa alas kaki.

Wanita itu diam-diam tersenyum. Namun air mata seketika membasahi kedua pipinya. Tak apa. Pemuda itu pasti akan menemukan cintanya. Walaupun itu bukan dirinya, ia tidak keberatan. Pemuda itu pantas mendapatkan sesuatu yang lebih dari sekedar bintang jatuh. Biarlah ia menjadi bintang jatuh bagi pemuda itu, karena sesungguhnya, Tuhan pasti sudah menyediakan yang lebih baginya.

Seohyun berjalan pelan memasuki rumahnya ketika ia teringat sesuatu.

Wanita itu langsung berjalan menuju kotak pos. tangannya terulur untuk mengambil paket yang terparkir disana. Paket pertama yang ia dapatkan dari orang lain. Bukat paket dari dirinya sendiri.

paket itu bersampul putih polos. Seohyun membuka sampul itu dengan hati-hati lalu menemukan sebuah buku diary yang berhias kerang, taburan pasir, dan segala macam-macam benda yang biasa kita lihat dipinggir pantai ataupun laut.

Seohyun membuka halaman pertama buku itu. lalu membaca tulisan yang tertera disana.

Suatu hari aku melihat sebuah bintang.

Diantara semua bintang yang berpendar diangkasa, ada satu bintang yang paling bersinar. Mungkin kesayangan angkasa.

Tiba-tiba bintang itu jatuh dari genggaman sang langit.

Aku tak sempat menangkapnya.

Bintang itu jatuh ke laut. Membelah selat, dan akhirnya memendam di dasar sana.

Aku tidak bisa membawakan bintang itu padamu.

Lagipula, menurutku kamu tidak membutuhkan bintang itu. karena itu bukan harapanmu.

Aku ingin kamu menulis semua harapanmu disini. Ditempat dimana serpihan bintang itu pernah jatuh.

Dan aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku mendoakan kebahagiaanmu lebih dari siapapun.

Dari aku, untuk kamu.

 

~EPILOG ~

 

Sudah selesai mengantar paketnya?” Soo Jung menyapa Sehun saat ia melihat pemuda itu kembali duduk di atas kursi kerjanya setelah pergi sebentar.

“Ya.”

“Kenapa kau terlihat lesu begitu? Apa terjadi sesuatu padamu, Sehun-ah?” Tanya Soo Jung khawatir. Gadis itu menaruh telapak tangannya pada kening Sehun. Tidak panas, “Sehun-ahapa telah terjadi sesuatu?”

Sehun tersenyum kecil, “Tidak.”

“Lalu, ada apa? Apa kau ingin menceritakannya padaku?”

“Kau tahu sesuatu, Soo Jung-ah?”

“Apa?”

“Kau itu cerewet sekali.”

“APA?!”

Sehun tergelak lepas. Menunjukan giginya yang tersusun rapih, “Tak apa aku suka kau yang seperti itu.”

“Hah? Maksudnya?”

“Aku bilang aku suka dengan kau yang seperti itu.” Sehun mengangkat tangannya lalu mengelus puncak kepala Soo Jung, “Jangan pernah berubah ya.”

“Kalau aku berubah, memangnya kau mau apa?” Soo Jung mengangkat sebelah alisnya.

Pemuda itu tertawa lagi. Ia menolehkan kepalanya. menatap Soo Jung sambil tersenyum manis, “Maka aku akan berhenti menyukaimu.”

Kedua bahu Soo Jung merosot. Mulutnya menganga membentuk huruf ‘O’ yang besar. “M-m-m-m-m-m-m-maksudnya?”

“Tebak saja sendiri.”

aku yakin, ia bisa mendapatkan yang lebih baik daripada aku. Lebih cantik. Lebih muda. Lebih mencintainya. Sang postman pasti bisa menemukannya

Dan sepertinya……..Sehun sudah menemukanya. Benar kan? : – )

 

-END-

 

Hallo, maaf sekali chapter terakhir ini sebenarnya sudah selesai lama dan sudah pernah di post di salah satu blog fanfiction khusus EXO, hanya saja lupa di update disini:)

Enjoy^^

KAIRANA PART 7 (Choi Hyera’s guilty pleasure)

tumblr_mjpyad9Zl71s5w9sgo1_1280

TITTLE:  KAIRANA PART 7 (Choi Hyera’s guilty pleasure)

AUTHOR: AAL (@adlnayu / @deerjongin)

GENRE: Romance, comedy, friendship

MAIN CAST: Kirana Putri Jeniva (OC)

Kim Jongin

LENGTH: Chapter

Halooooooo. Cuma mau kasih tau aja nih, karena ff ini cast nya banyak, jadi aku buatin daftarnya untuk kalian agar nggak bingung ya.

CAST:

Han Eunkyung (OC) (Roomatesnya Kirana)

Kim Yejin. (Pacarnya Chanyeol)

Choi Hyera (OC) (si cewek jutek)

Si kembar Hwang : Hwang Minra (OC) (Kembar sulung. Julukan dari Kirana untuk dia adalah mantan napi)

Hwang Minra (OC) (Kembar Bungsu. Julukan dari Kirana untuk dia adalah putri)

Lee Sena (OC) (Gadis berkacamata pemalu yang jago dance.)

Seo Yongho. (Temannya Kai dan Eunkyung.)

In Young (Staff langganan Kirana.)

Mas Jody (OC) (kakak laki-lakinya Kirana)

Alana (OC) (Adik perempuan Kirana)

Ice Zhang (OC) (Gadis misterius)

More

KAIRANA PART 6 (Cowok mesum dan gadis misterius)

ice_cream_cone_paper_cupTITTLE: KAIRANA PART 6 (Cowok mesum dan gadis misterius)

AUTHOR: AAL (@adlnayu / @deerjongin)

GENRE: Romance, comedy, friendship

MAIN CAST: Kirana Putri Jeniva (OC)

Kim Jongin

LENGTH: Chapter

Halooooooo. Cuma mau kasih tau aja nih, karena ff ini cast nya banyak, jadi aku buatin daftarnya untuk kalian agar nggak bingung ya.

CAST:

Han Eunkyung (OC) (Roomatesnya Kirana)

Kim Yejin. (Pacarnya Chanyeol)

Choi Hyera (OC) (si cewek jutek)

Si kembar Hwang : Hwang Minra (OC) (Kembar sulung. Julukan dari Kirana untuk dia adalah mantan napi)

Hwang Minra (OC) (Kembar Bungsu. Julukan dari Kirana untuk dia adalah putri)

Lee Sena (OC) (Gadis berkacamata pemalu yang jago dance.)

Seo Yongho. (Temannya Kai dan Eunkyung.)

In Young (Staff langganan Kirana.)

Mas Jody (OC) (kakak laki-lakinya Kirana)

Alana (OC) (Adik perempuan Kirana)

Ice Zhang (OC) (Gadis misterius)

Kalau castnya anak-anak EXO, nggak perlu aku kasih tau ya? Hehehe segini dulu yang aku kenalin. Masih banyak cast-cast ciptaanku yang akan berperan dalam ff ini. jadi mohon ditunggu kelanjutannya : ).

More

KAIRANA PART 5 (Pertemuan kedua dengan cowok manga)

dhdfTITTLE: KAIRANA PART 5 (Pertemuan kedua dengan cowok manga)

AUTHOR: AAL (@adlnayu / @deerjongin)

GENRE: Romance, comedy, friendship

MAIN CAST: Kirana Putri Jeniva (OC)

Kim Jongin

LENGTH: Chapter

Halooooooo. Cuma mau kasih tau aja nih, karena ff ini cast nya banyak, jadi aku buatin daftarnya untuk kalian agar nggak bingung ya.

CAST:

Han Eunkyung (OC) (Roomatesnya Kirana)

Kim Yejin. (Pacarnya Chanyeol)

Choi Hyera (OC) (si cewek jutek)

Si kembar Hwang : Hwang Minra (OC) (Kembar sulung. Julukan dari Kirana untuk dia adalah mantan napi)

Hwang Minra (OC) (Kembar Bungsu. Julukan dari Kirana untuk dia adalah putri)

Lee Sena (OC) (Gadis berkacamata pemalu yang jago dance.)

Seo Yongho. (Temannya Kai dan Eunkyung.)

In Young (Staff langganan Kirana.)

Mas Jody (OC) (kakak laki-lakinya Kirana)

Alana (OC) (Adik perempuan Kirana)

Kalau castnya anak-anak EXO, nggak perlu aku kasih tau ya? Hehehe segini dulu yang aku kenalin. Masih banyak cast-cast ciptaanku yang akan berperan dalam ff ini. jadi mohon ditunggu kelanjutannya : ).

More

KAIRANA PART 4

TITTLE: KAIRANA PART 4 (Gitar ajaib Yejin)

Main Cast: Kirana (OC) and Kai

Author: AAL (@deerjongin / @adlnayu)

Genre: Romance, friendship, comedy

Length: Chapter

Kirana’s POV

 

“Kalian…..KEMBAR?!!!”

Aku mengerjapkan kedua mataku. Kepalaku menoleh bergantian antara sang putri dan si mantan napi. Gila. Wajah yang sama rupanya, rambut yang sama panjangnya, struktur tubuh yang sama langsingnya, bahkan warna kulit yang sama putihnya! Daripada kembar, mereka berdua lebih mirip dengan sepasang bayangan. Tidak ada bedanya!

“Loh kamu tidak tahu?” Sang putri memandangku bingung, “Karena kami kembar, kami kan jadi lebih mencolok daripada trainee lain.”

“Dia anak baru Minri-ah.” Choi Hyera. Gadis jutek itu tiba-tiba menghentikan aktifitas menghafal liriknya dan angkat bicara. Sepertinya ia kesal karena aku si anak baru ini lagi-lagi membuat keributan, “Ia baru masuk kemarin. Wajar saja kalau tidak tahu jika kalian kembar.”

“Heee, anak baru ya?” Si mantan napi berdiri lalu berjalan mendekat padaku. Ia pandangi aku lekat-lekat seperti baru saja melihat spesies langka yang hampir punah, “Siapa namamu?”

“Kirana.”

“Hmmmmm…. Cute.” Si mantan napi mengangguk-angguk, “haven’t heard that name before. Kamu dari Thailand ya?”

“Bukan Indonesia.”

“Ohhh dari Bali toh.”

Hah?

“Bukan, aku dari Indonesia.” Sepertinya ada yang salah disini, “Tepatnya Jakarta, Indonesia.”

“Loh iya berarti dari Bali kan?” Si mantan napi terlihat nggak terima aku membantah perkiraannya, “Indonesia kan ada di Bali.”

Kepalamu Bali!

“Bukan. Bali yang ada di Indonesia. Bali itu salah satu pulau yang ada disana. Tepatnya di Indonesia bagian tengah.” Loh ko aku jadi ngajarin dia gini sih? ,”Yah intinya aku dari Indonesia.”

Si Mantan napi terlihat (masih) nggak terima aku mengkuliahinya seperti ini. Namun pada akhirnya ia mengangguk juga, “Namaku Hwang Minra. Dan itu adikku, Hwang Minri. Kalau sampai tertukar, kamu aku kenakan denda.”

Buset, ini mah namanya malak secara nggak langsung!

Namun aku lagi capek berdebat jadi aku iyain saja, “Yah…. Selama kalian memakai pakaian yang berbeda seperti ini, aku nggak akan tertukar ko.”

“Tapi buktinya tadi kamu tertukar.”

“Namanya juga baru pertama kali.”

Minra, atau si mantan napi, menggunakan kaus berwarna hitam dengan corak army di bagian lengan, sementara Minri sang putri cantik, mengenakan kaus lengan panjang berwarna pink susu dengan bando cantik tersemat di kepalanya. Duh, jelas-jelas mereka memakai pakaian yang berbeda, kenapa aku masih tertukar juga ya?

“Sekarang, kamu sudah bisa membedakan mereka kan?” Hyera kembali angkat bicara, “Tolong biasakan untuk bicara dengan tenang tanpa berteriak. Ini bukan hutan jadi kami pasti bisa mendengar suaramu.”

“Ya, Hyera sunbae. Maafkan aku.” Lagi-lagi aku terintimidasi oleh auranya.

“Darimana kamu tahu namaku?” Tanya gadis itu lagi.

Ini pertama kalinya aku bicara dengannya lebih dari dua kalimat. Entah kenapa, aku jadi grogi, “D-dari Jombang, eh maksudnya dari Jongin sunbae dan Yejin eonnie.”

“Sejak kapan kamu dekat dengan Yejin sampai BERANI memanggilnya ‘Eonnie’?” Kedua bola mata Gadis ini membulat. Ia terlihat seperti ingin menelanku bulat-bulat.

Aku jadi tambah takut, “Y-Yejin eonnie bilang, pa-panggilan sunbae terlalu formal. Jadi ia memintaku untuk memanggilnya dengan ‘eonnie‘ saja.”

Hyera menatapku dengan kedua matanya yang lebih tajam dari elang. Caranya menatap seseorang mengingatkanku pada Bu Woro. Guru sosiologiku yang sangat teramat galak dalam mengajar. Bedanya, Hyera jauh lebih muda dan cantik, “Yasudah. Sekarang kita akan mulai latihan, tolong perhatikan sikapmu.”

“Jangan terlalu kaku padanya Hyera-ya.” Minra melingkarkan lengannya pada leher gadis itu, “Kamu harus sedikit lunak dengan anak baru.”

“Iya. Anak ini bisa ketakutan kalau kamu memandangnya dengan tatapan seperti itu.” Minri menimpali sambil tersenyum menenangkan. Dibela oleh kedua orang ini, entah kenapa aku jadi nggak enak.

“Terserah.” Hyera melepaskan rangkulan Minra dan kembali ke tempatnya untuk menghafal lirik.

“Jangan dipikirkan ya.” Minri menepuk pundakku, “Ia memang dingin, tapi percayalah, dia bukan orang jahat ko.”

Dengan kedua mata setajam itu masih dibilang bukan orang jahat? Tapi yah, benar juga sih. Aku kan tidak mengenalnya. Nggak pantas rasanya aku berasumsi yang aneh tentang gadis itu padahal sama sekali tidak mengetahui apapun tentangnya.

“Ya. Terimakasih Minri sunbae.”

“Hei anak baru!” Seorang pria yang berdiri dibelakang keyboard tiba-tiba berteriak. Saat kutolehkan wajah, dapat kuprediksi bahwa ia pasti Mon Yonho saem. Guru vokal yang akan mengajar pada hari ini, “Kenapa kau terlambat?!”

“Aku tidak tahu kalau kelas sudah dimulai sejak tiga puluh menit yang lalu. Di jadwal hanya tertulis kalau kelas akan dimulai satu jam lagi.”

“Memang tidak ada yang memberitahumu kalau ada perubahan jadwal?”

Hmmmm, Jombang aka  Jongin sih memberitahuku, tapi ngasih tahunya telat. Jadi, kuputuskan untuk menggeleng pelan.

Yonho saem sepertinya jadi kasihan padaku. Raut wajahnya langsung melunak dan akhirnya ia mengangguk. Pria setengah baya itu lalu kembali melanjutkan aktivitas mengajarnya, “Baik, untuk hari ini kita akan belajar bagaimana bernyanyi ‘trio’. Dan aku ingin kalian menunjukan yang lebih dari sekedar menyanyi dan menari.”

Trio? Maksudnya nyanyi bertiga macam tiga diva gitu?

“Kalian boleh memilih kelompoknya sendiri. Tidak lebih dari tiga orang ya.” Yaiyalah! ,”Aku beri kalian waktu tiga puluh menit dimulai dari sekarang.”

Apaan nih? Ko berasa ikut master chef gini?

Setelah Yonho saem mengatakan itu, seisi ruangan langsung kasak-kusuk untuk mencari kelompok. Pasangan kembar dan Hyera ternyata satu kelompok. Aku menyapu pandanganku. Sebagai anak baru, ini lah hal yang paling menyebalkan. Aku kan nggak kenal mereka semua, gimana mau bikin kelompok?

“Hei anak baru, ah maksudku, Kirana…..ssi?” Yonho saem memanggilku, “Kau tidak dapat kelompok?”

Aku menggeleng sedih.

“Kalau begitu, kau sekelompok dengan mereka berdua saja. Mereka juga nggak punya kelompok ko.” Yonho saem tiba-tiba menunjuk dua orang cowok yang sedang menatap kearahku. Ditatap seperti itu aku jadi merasa risih, “kalian berdua, kemarilah sebentar.”

Dua orang cowok itu bertatapapan, lalu berjalan kearahku dengan langkah ragu.

Aku pun menatap kedua orang itu dengan mata mengerjap. Mereka bedua terlihat bertolak belakang. Yang satu bertubuh pendek dengan kedua mata sipit dan senyum jenaka, sementara yang satu lagi bertubuh tinggi dan berwajah suram. Aku seperti dapat melihat aura hitam dibalik punggungnya.

“Kirana-ssi, mereka berdua akan menjadi kelompokmu.” Yonho saem menepuk bahu mereka, “Bekerja samalah dengan baik ya.”

“Pasti dong!” Si pendek sipit tersenyum lebar, “Kita pasti akan bekerja sama dengannya sebaikkkkk mungkin. Yakan Tao?”

Cowok bertubuh tinggi dengan aura hitam dibelakang punggungnya menatapku dengan kedua matanya yang mengingatkanku pada panda. Lalu mengangguk pelan, “Ya……semoga saja.”

Aigoooo, tersenyum dong! Jangan buat gadis ini takut!” Si sipit lalu menjabat tanganku, “Hai, perkenalkan, namaku Byun Baekhyun. Siapa namamu?”

“Namaku Kirana.” Aku ikut tersenyum melihatnya, “Salam kenal Baekhyun sunbae.”

“Dan yang satu ini.” Baekhyun memukul punggung Tao, “Namanya Huang Zitao. Dia Trainee asal china dan bahasa koreanya lemah. Jadi maaf-maaf saja kalau ia jauh lebih pendiam daripada trainee lain.”

“Tak apa. Bahasa korea ku juga nggak bagus-bagus amat ko.”

“Loh memang kamu berasal darimana?”

“Indonesia.”

“OHHHH, negara yang mempunyai salad dengan saus berwarna cokelat itu?”

Hah? Apaan lagi nih? Tadi indonesia di Bali sekarang salad dengan saus cokelat? Jangan bilang nanti aku akan bertemu dengan orang yang mengatakan kalau empek-empek itu sejenis dimsum.

“Saus berwarna cokelat?”

“Iya. Sayuran gitu. Terus diatasnya dilumuri dengan saus berwarna cokelat. Penyajiannya mirip salad.”

Hah? Aku memutar otak. Memang di Indonesia ada makanan seperti itu?

“Baekhyun Hyung, daripada itu, lebih baik kita memikirkan lagu apa yang akan kita tampilkan nanti.” Tao tiba-tiba mengingatkan, “Kita hanya diberi waktu tiga puluh menit. Ingat?”

“Oh iya.” Keasikan mikirin salad berbumbu warna cokelat aku jadi melupakan hal yang jauh lebih penting, “Kita disuruh menampilkan yang lebih dari sekedar menyanyi dan menarikan? Bagaimana kalau kita sambil Stand up Comedy?”

Stand up Comedy? Apa itu?” Baekhyun mengerutkan kedua alis.

“Iya. Kaya ngelucu diatas panggung gitu. Jadi kita ngelucu sambil menari dan menyanyi.”

“Hahahaha ngelucu?” Baekhyun tiba-tiba terbahak. Ia lalu menepuk punggung Tao keras, “Tampang kaya dia mau kamu suruh ngelucu?! Nanti nggak akan ada yang mau nonton!”

Yaampun. Cowok ini kalau ngomong ko nggak diayak sih?

“Terus apa dong?” Tanyaku lagi.

Tao dengan aura hitam yang masih mengelilinginya, tiba-tiba angkat bicara, “Bagaimana kalau kita….beraegyo?”

Aegyo?”

“Iya.” Baekhyun mengangguk semangat. Ia lalu menoleh pada Tao, “Hei, coba kau tunjukan bbuing-bbuing mu pada Kirana. Agar ia mengerti apa itu Aegyo.”

“Oke, Hyung.” Cowok berambut hitam dan beraura kelam itu lalu menatapku. Mengepalkan kedua tangannya lalu menaruhnya diantara pipi. Ia menggerakan kepalan tangan tersebut sambil membuat ekspresi imut lalu… “Bbuing~ Bbuing~”

Aku yang melihatnya langsung bergidik.

Idih. Lucu kagak, sok imut iya.

“Gimana?” Baekhyun menoleh padaku, “Apa kau ingin mencobanya juga?”

Aku menggeleng cepat, “E-Enggak. Makasih.”

“Yah jangan gitu dong! Kalau menunjukan aegyo di depan kita aja nggak mau, gimana di depan orang-orang nanti?” Baekhyun mengerucutkan bibirnya, “Kamu tahu kan kalau disini ada sistem dimana tiap minggu, kita disuruh menunjukan bakat masing-masing. Nah, kalau aegyo aja kamu nggak mau, gimana kalau kamu disuruh melakukan hal yang jauh lebih aneh?”

Iya sih, kalau itu juga aku tahu. Tapi kita kan bisa berakting, atau ngapainlah selain aegyo. Bukannya aku nggak suka aegyo sih. Menurutku aegyo itu lucu, KALAU yang melakukannya juga lucu. Nah kalau mukanya sangar atau bertampang datar disuruh aegyo sih, yang ada akan….. Emm sorry to say, maksa.

“Emm… Bentar deh bentar. Tadi kamu bilang menunjukan di depan orang-orang?” Aku lalu menatap Baekhyun dan Tao bergantian, “Jadi kita beneran akan ber-aegyo????”

~KAIRANA~

Baekhyun sialan. Ia tetap memaksakan kehendak untuk ber-aegyo. Jadilah kami menyanyikan lagu Gee milik SNSD ditambah dengan sentuhan aegyo. Coba bayangin, lagu itu bahkan sudah dipenuhi dengan aegyo. Masih mau ditambah lagi???

“Pokonya aku ingin lagu SNSD!” Itulah perkataan Baekhyun saat aku menyarankan menggunakan lagu lain. Iya, aku tahu dia sone. Aku juga sone ko. Tapi ya nggak usah gini-gini juga kan.

Kalau Tao sih pasrah. Dia lebih memilih untuk mengikuti semua kehendak Baekhyun daripada menentangnya.

Speaking about Hyera and twins, mereka bertiga menampilkan sesuatu yang sangat luar biasa. Ketiga orang itu menyanyikan lagu Stand up for love milik destiny’s child. Tapi ditambah dengan alunan rapp dari Hwang Minra. (Kayanya bagian rapp ini mereka buat sendiri deh soalnya lagu originalnya kan nggak ada rapp nya). Membuat penampilan mereka menjadi yang paling bagus diantara semuanya.

Tapi, ada satu penampilan milik trainee lain yang membuatku terpukau. Trainee itu cowok. Tapi suaranya tinggi bangeeetttttt. Aku sampai menganga mendengarnya. Bodohnya, aku malah melupakan namanya. Kalau tidak salah sih, Kim Jon….ah siapa gitu. Yang jelas sih bukan Kim Jongin ya mukanya beda jauh.

Eh loh ko jadi keinget dia sih?

Aku mendengus sebal lalu melanjutkan langkah sambil menjinjing sebuah kotak makan berisi ttokboki yang masih hangat. Karena melewatkan jam makan siang, perutku sekarang lapar banget. Dan tidak ada yang bisa diajak untuk makan bersama. Si kembar sudah menghilang semenjak kelas vocal usai, dan aku terlalu takut untuk mengajak Hyera jadi diriku lebih memilih untuk makan siang di atap gedung saja. Semoga tidak ada orang.

Kedua kakiku yang sedang meniti tangga tiba-tiba terhenti, saat mendengar sebuah suara merdu yang diiringi oleh alunan gitar. Aku menajamkan telingaku untuk mengetahui lagu apa yang sedang dinyanyikan.

I’ve been sitting, watching life pass from the sidelines
Been waiting for a dream to seep in through my blinds
I wondered what might happen if I left this all behind
Would the wind be at my back
Could I get you off my mind
This time

Waktu aku mengintip dari celah pintu, kedua mataku membulat saat mengenali sosok yang sedang bernyanyi menggunakan gitar itu, “Yejin Eonnie?”

“Ah, Kirana-ah? Sedang apa disini?” Gadis itu menoleh sambil menurunkan gitarnya.

Eonnie sendiri…… Sedang apa  disini? Kenapa tidak ikut kelas vocalnya Yonho saem?”

“Ah, aku mengambil kelas jam lima sore. Jadi sekarang ingin refreashing dulu.”

“Dengan bermain gitar?” Aku menempatkan diriku duduk di sebelahnya, “Aku tidak tahu Eonnie mahir dalam bermain gitar.”

Gadis itu cepat-cepat menggeleng,”Tidak bisa dibilang mahir  juga ko.”

“Itu bohong.”

Kami berdua langsung menoleh ke sumber suara. Dan munculan sesosok cowok berbadan jangkung sedang berjalan kearah kami.

“Dia, sangat mahir dalam bermain gitar.” Cowok itu berambut agak gondrong yang dicat cokelat tua (atau itu memang warna aslinya aku nggak tahu). Wajahnya tampan dan dihiasi oleh sebuah senyum ramah. Kedua telinganya agak caplang dan ia berjalan kemari sambil menjinjing sebuah gitar.

Ko kayanya pernah liat ya……

“Chanyeol Oppa?” Yejin mengerjapkan kedua matanya saat melihat sosok itu, “Kenapa ada disini? Bukannya kamu masih latihan?”

Chanyeol……? Jangan-jangan…..

“Kamu Park Chanyeol yang jadi model di SNSD – Genie Japanese Version?!!!!” Kataku sambil menatapnya melolotot. Astaga, ini seperti dejavu. Saat pertama kali bertemu Yejin, aku juga merasa pernah melihat dirinya. Dan saat bertemu langsung dengan cowok bernama Park Chanyeol ini, aku juga merasa demikian.

“Kamu mengingatnya? Padahal itukan sudah lama sekali.” Ucap Chanyeol bingung. Bahkan tanggapannya sama persis dengan Yejin. Hebat!

“Tentu. Aku melihat MV itu setiap hari.” Jawabku polos. Chanyeol tertawa.

“Namaku Park Chanyeol.” Cowok itu menjulurkan tangannya yang besar. Aku menjabatnya , “Namaku Kirana. Trainee baru disini. Senang bertemu denganmu.”

Cowok itu mengangguk dan menempatkan dirinya duduk disampingku dan Yejin lalu mengeluarkan gitar dari tempatnya, “Yejin-ah, kamu sudah belajar lagu This Time yang aku rekomendasikan waktu itu?”

“Sudah. Kirana bahkan sudah mendengarnya.” Ia mengerling padaku. Aku membalas tatapannya bingung.

“Aku? Kapan?”

“Baru saja. Lagu yang kamu dengar saat menemukanku ada disini.”

Ahhh lagu itu toh. Aku menatap Chanyeol lalu mengangguk. Cowok itu tersenyum puas lalu men-setting gitarnya. Setelah selesai ia tepuk badan gitar itu sambil menatap Yejin, “Mau menyanyikannya bersama?”

Gadis itu tersenyum. Rona merah tiba-tiba menghiasi kedua pipinya, “Boleh.”

Setelah menarik nafas, keduanya lalu mulai menyanyikan sebuah lagu. Berdua. Dengan iringan gitar yang dipetik bersama.

Tonight the sky above
Reminds me how to love
Walking through wintertime, the stars all shine
The angel on the stairs
Will tell you I was there
Under the front porch light
On the mistery night

I’ve been sitting, watching life pass from the sidelines
Been waiting for a dream to seep in through my blinds
I wondered what might happen if I left this all behind
Would the wind be at my back
Could I get you off my mind
This time

“Hebat sekali Yejin-ah.” Chanyeol mengacak-acak rambut Yejin lembut, “Padahal aku baru memberitahu lagu ini kemarin lusa dan kamu sudah bisa menguasainya.”

“Tidak juga.” Gadis itu merendah, “Dibandingkan aku, Oppa jauh lebih hebat. Ditambah lagi, kamu juga bisa bermain drum. Berbakat ngerapp pula. Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan kamu.”

“Tidak. Menurutku kamu yang lebih hebat.”

“Salah. Oppa yang lebih hebat.”

“Kamu.”

Oppa.”

“Kamu.”

Oppa.”

Aku memandang kedua sejoli ini sambil mengerjapkan kedua mata. Loh ko jadi banyak aura love-love bertebaran di sekitar sini sih? Ah tidak. Tepatnya di sekitar mereka. Chanyeol dan Yejin seperti dikelilingi aura dua orang yang sedang kasmaran. Daripada mengganggu dua orang yang sedang pacaran. Lebih baik aku pamit undur diri saja.

Setelah mengucapkan salam kepada mereka berdua, aku pun kembali mengambil kotak makan siangku lalu berjalan turun dari atap gedung itu.

Enakan makan dimana ya? Kalau di Kafetaria, tempat itu pasti ramai sekali. Dan aku akan semakin terlihat seperti forever alone. aku tahu seharusnya tak boleh begini. Sebagai anak baru, akan lebih baik kalau aku ikut berkumpul dengan para trainee dan berkenalan dengan mereka semua. But, i admit it, i’m not good at words. Kalau aku memaksa berkenalan, mereka semua pasti akan menganggapku sok kenal sok de…..

Uuuuuuuuups.

Aku menabrak seseorang.

“Astaga, kamu lagi, kamu lagi!”

That voice. Ugh.

“Kenapa? Nggak suka?” Aku langsung mengangkat daguku tinggi-tinggi saat bertemu denganya. Reaksi yang biasa aku tunjukan saat bertemu dengan orang-orang nyebelin seperti dia, “Kaya aku mau ketemu sama kamu aja.”

Jongin mendengus mendengarnya, “Lah, siapa juga yang bilang ingin bertemu denganmu?”

Cowok itu masih memakai pakaian yang sama seperti yang dipakainya saat di Cafe bubble tea tadi. Apakah itu berarti ia baru kembali dari sana? Kalau begitu, apa kabar si cowok manga? Dia masih ada disana tidak ya?

“Eh, iya kamu dari mana saja? Ko nggak ikut kelas vocalnya Yonho saem?” Tanyaku sambil menyelipkan sejumput rambut ke belakang telinga.

“Bilangnya tidak mau bertemu denganku tapi malah nanya-nanya aku ada dimana.”

“Itu namanya attitude tahu! Bagaimanapun kamu ini seniorku, wajar dong kalau aku melakukannya untuk basa-basi?” Ah tahu gini, lebih baik aku langsung berjalan meninggalkannya saja. Sia-sia menghabiskan energi untuk bersikap sopan pada mahluk yang satu ini.

Jongin mengangkat kedua bahu santai, “Aku mengambil kelas jam lima sore. Makanya tadi tidak masuk.”

“Oh, berarti barengan sama Yejin eonnie ya?”

“Yejin? Oh iya. Darimana kamu tahu?”

“Tadi aku sempat bertemu dengannya. Mau mengajaknya makan siang bersama tapi tiba-tiba pacarnya datang. Karena tidak ingin mengganggu makanya aku pergi.”

“Pacar? Chanyeol Hyung?”

“Iya. Kamu kenal?” Tanyaku penasaran.

“Siapa juga yang tidak kenal dengan cover boy seperti dia?” Jongin memutar kedua bola matanya malas, “Dia adalah salah satu trainee populer disini. Yejin juga. Mereka itu pasangan yang sangat-“

Kryukkk~ kryukk~

Belum sempat Jongin menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba terdengar suara aneh. Aku memeriksa blackberry ku, tidak ada pesan. Lalu, suara itu berasal dariman ya?

Barulah, saat diriku melihat wajah Jongin yang merah karena malu, aku baru mengetahui darimana suara itu berasal. Perutnya.

“Hahahaha, sunbae, kamu lapar ya?” Aku terkikik melihat wajahnya yang merah padam.

Jongin gelagapan, “Diam kamu! Lapar atau tidak ini bukan urusanmu tahu!”

Aku malah tertawa makin keras. Bahkan sudut-sudut mataku sampai mengeluarkan air mata. Wajahnya yang malu tapi menahan gengsi itu benar-benar lucu. Ia terlihat seperti anak kecil angkuh yang tidak ingin mengakui kalau mainannya di rebut orang.

Setelah puas tertawa, akupun mengangkat kotak makanku tepat di depan wajahnya sambil tersenyum manis, “Mau makan bersama?”

~TBC~

I’m triple sorry for the lated update. : (.

Ah iya, bagi readers yang menunggu kelanjutan endless love part 6, please kindly to wait a little bit longer. Karena diantara semua fanfic exo ku, endless love adalah yang paling sulit. Susah rasanya membuat cerita dengan genre sad romance menjadi bacaan yang seru dan menarik. Salah-salah malah akan menjadi membosankan dan menye-menye hehe.

Ah iya, sama seperti silver knight, cast yang ada dalam fanfic Kairana saling berhubungan. Jadi mohon diafal dan jangan sampai lupa ya : ).

Kita ketemu lagi di chapter selanjutnya, ciao~

BubbleTea3TITTLE: KAIRANA PART 3 (Cowok manga, Putri, dan Mantan napi.)

CAST: KIM JONGIN/ KAI

Kirana Putri Jeniva (OC)

Other cast will be revealed soon

AUTHOR: AAL (@adlnayu/@deerjongin)

Genre: romance, friendship. Comedy

Length: chapter

Notes: kalimat yang bercetak miring, itu berarti diucapkan dengan bahasa Indonesia atau inggris ya :  )

  More

KAIRANA PART 2 (start from here)

untitledTITTLE: KAIRANA PART 2 (start from here)

CAST: KIM JONGIN/ KAI

Kirana Putri Jeniva (OC)

Other cast will be revealed soon

AUTHOR: AAL (@adlnayu/@deerjongin)

Genre: romance, friendship. Comedy

Length: chapter

Notes: kalimat yang bercetak miring, itu berarti diucapkan dengan bahasa Indonesia atau inggris ya :  )

  More

Previous Older Entries